Wanita di Balik Takhta: Kiprah Borte dalam Lahirnya Kekaisaran Mongol

JAKARTA | Priangan.com – Dalam sejarah dunia, Kekaisaran Mongol dikenang sebagai salah satu kekuatan militer dan politik terbesar yang pernah ada. Di balik kegemilangan kekaisaran ini, nama Genghis Khan selalu muncul sebagai tokoh utama yang memimpin penaklukan dan penyatuan suku-suku nomaden Asia Tengah pada abad ke-13. Namun, di balik sosok sang penakluk, tersembunyi peran seorang perempuan yang tak kalah penting dalam membentuk fondasi kekuasaan Mongol, ia adalah Borte, istri utama Genghis Khan.

Borte lahir sekitar tahun 1161 dari suku Olkhonoud, wilayah yang kini termasuk Mongolia Dalam. Sejak muda, ia telah dijodohkan dengan Temujin, pemuda dari suku Borjigin yang kelak dikenal sebagai Genghis Khan.

Pernikahan mereka menandai awal dari perjalanan bersama yang penuh gejolak dan tantangan. Tidak lama setelah menikah, Borte diculik oleh anggota suku Merkit yang bermaksud membalas dendam kepada keluarga Temujin.

Penculikan pengantin seperti ini bukan hal asing dalam dunia stepa Mongolia kala itu, karena kerap dijadikan alat politik atau ajang balas dendam antarsuku.

Namun, Temujin yang masih dalam tahap awal membangun kekuasaannya, tidak tinggal diam. Bersama sekutunya, Jamukha, ia melancarkan misi penyelamatan dan berhasil membawa pulang Borte. Aksi heroik ini menjadi titik balik penting dalam kehidupan pribadi Temujin sekaligus dalam dinamika politik Mongol.

Peristiwa itu memicu konflik berdarah antara suku Borjigin dan Merkit, yang akhirnya dimenangkan oleh pihak Temujin. Sejak saat itu, kekuatan militer dan pengaruh Temujin semakin menguat, membuka jalan menuju penyatuannya atas berbagai suku nomaden.

Setelah Temujin memproklamasikan diri sebagai Genghis Khan pada tahun 1206, Borte tetap menjadi figur sentral dalam kehidupan kekaisaran.

Meskipun sang Khan memiliki banyak istri dan selir, Borte tetap menduduki posisi tertinggi sebagai permaisuri utama. Ia tidak hanya mengelola rumah tangga kekaisaran yang besar dan kompleks, melainkan juga memainkan peran penting dalam ranah politik, sosial, dan bahkan militer.

Lihat Juga :  Kanibalisme Medis: Sejarah Kelam Pengobatan dari Tengkorak Manusia

Dilansir dari National Geographic, Anne Broadbridge, profesor sejarah dari University of Massachusetts, menjelaskan bahwa istri utama dalam struktur Kekaisaran Mongol mengatur rumah tangga besar yang terdiri dari ribuan orang, termasuk selir, pelayan, penjaga, penggembala, serta kawanan hewan yang menyertainya berpindah-pindah mengikuti pola hidup nomaden.

Kehadiran Borte dalam pusat kekuasaan memberi dampak besar pada kebijakan dan arah kekaisaran. Ia dikenal sebagai penasihat tepercaya Genghis Khan.

Borte kerap memberikan saran dalam isu-isu penting, termasuk saat menyarankan suaminya untuk memutuskan hubungan dengan Jamukha yang mulai menunjukkan tanda-tanda pengkhianatan. Pada tahun 1204, nasihat Borte terbukti krusial setelah Genghis Khan berhasil mengalahkan dan mengeksekusi Jamukha dalam pertempuran.

Lihat Juga :  Pulau Manhattan Pernah Dijual? Begini Kisahnya

Peran Borte juga tampak dalam urusan dalam negeri, seperti ketika ia mendesak suaminya untuk menghukum Teb Tenggeri, seorang dukun yang dianggap telah melecehkan anggota keluarga kekaisaran. Genghis Khan akhirnya mengikuti saran sang permaisuri dan menyingkirkan sang dukun yang sekaligus memperkuat kembali otoritasnya di mata rakyat Mongol.

Di samping menjadi penasehat politik, Borte juga bertindak sebagai diplomat internal kekaisaran. Ia mengatur pernikahan kelima putrinya dengan anak-anak pemimpin suku lain demi memperluas jaringan kekuasaan.

Ia juga membesarkan empat putra, termasuk Jochi, anak sulungnya yang sempat diragukan asal-usulnya karena lahir tak lama setelah ia diculik oleh Merkit. Namun, dengan keteguhan dan wibawanya, Borte berhasil mempertahankan posisi Jochi dalam struktur kekuasaan Mongol dan memastikan keempat putranya menjadi penerus yang kuat.

Erin Blakemore dari National Geographic menulis bahwa meskipun bukti arkeologis mengenai aktivitas perempuan dalam Kekaisaran Mongol masih terbatas, banyak catatan sejarah menunjukkan bahwa perempuan, terutama istri utama seperti Borte, memegang peranan vital.

Lihat Juga :  Menembus Kain, Revolusi Mesin Jahit yang Mengubah Dunia

Sementara laki-laki berada di medan perang dan menaklukkan wilayah baru, perempuan mengelola logistik, rumah tangga, hubungan diplomatik, dan stabilitas internal kekaisaran. Dalam praktiknya, mereka menjalankan fungsi administratif setingkat dengan kepala negara dalam konteks domestik kekaisaran.

Borte memang hidup dalam bayang-bayang nama besar suaminya, namun bayangan itu tidak mampu menutupi sinarnya. Ia adalah fondasi diam-diam dari kekuatan yang mengguncang dunia Eurasia pada abad pertengahan.

Jika Genghis Khan dikenang sebagai jantung dari Kekaisaran Mongol, maka Borte adalah napasnya yang menghidupkan, menopang, dan mengarahkan laju kekaisaran ke masa kejayaannya.

Tanpa Borte, dan tanpa kehadiran para perempuan lainnya dalam lingkaran kekaisaran, barangkali sejarah Kekaisaran Mongol akan berjalan sangat berbeda. Mereka adalah pahlawan yang tak tercatat megah dalam prasasti, tetapi jejak pengaruhnya terasa di setiap langkah kemajuan kekaisaran. (LSA)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos