SOLO | Priangan.com – Di tengah kemajuan zaman dan derasnya arus hiburan modern, kesenian tradisional tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Salah satunya adalah wayang orang, sebuah pertunjukan drama klasik yang menggabungkan seni tari, lakon pewayangan, musik, dan dialog.
Di antara banyak kelompok seni wayang orang yang pernah ada, Wayang Orang Sriwedari dari Solo merupakan salah satu yang paling legendaris. Didirikan pada awal abad ke-20, kelompok ini dikenal luas karena konsistensinya dalam menjaga tradisi sekaligus menyuguhkan pertunjukan berkualitas tinggi.
Dalam perjalanan panjangnya, Wayang Orang Sriwedari telah tampil di berbagai kesempatan, baik untuk masyarakat umum maupun tamu kehormatan.
Namun, salah satu pementasan mereka yang paling dikenang terjadi pada tahun 1938. Saat itu, kelompok ini dipercaya untuk tampil dalam sebuah perayaan penting yang melibatkan keluarga kerajaan Belanda.
Momen tersebut bahkan mendapat sorotan dari koran kolonial ternama, De Locomotief, dalam edisi 20 Juli 1938 menurunkan laporan berjudul “Wajang Wong Als Openlucht-spel te Solo”, yang berarti “Wayang Wong sebagai Pertunjukan Terbuka di Solo”.
Pertunjukan itu digelar dalam rangka ulang tahun ke-29 Putri Mahkota Juliana, putri dari Ratu Wilhelmina yang saat itu masih memerintah Belanda. Berlangsung di ruang terbuka pada malam yang dingin di Solo, pertunjukan ini berhasil memikat banyak penonton, mulai dari masyarakat lokal hingga para tamu undangan dari kalangan pejabat kolonial.
Hal ini menjadi menarik karena biasanya Wayang Orang Sriwedari tampil di dalam gedung, tetapi kali ini mereka justru tampil di bawah langit malam, sebuah pilihan yang memberi nuansa berbeda dan lebih megah.
Tak hanya itu, pertunjukan ini juga sekaligus menjadi bentuk perayaan atas kelahiran putri pertama Juliana, Beatrix Wilhelmina Armgard, yang lahir pada 31 Januari 1938.
Dengan dua perayaan dalam satu malam, pementasan tersebut pun disiapkan dengan sangat serius. Koresponden De Locomotief bahkan menyebut bahwa berbagai elemen khusus telah dipersiapkan untuk menyemarakkan acara ini.
Kisah Mahabharata menjadi lakon yang dipilih malam itu, dibawakan dalam bentuk Langendriya, sebuah gaya pertunjukan khas yang memadukan gerak tari, ekspresi wajah, narasi, dan musik secara utuh.
Penampilan para pemain yang kuat secara artistik dipadukan dengan tata cahaya yang dramatis, menjadikan panggung terlihat hidup dan memesona. Bagi penonton Eropa yang menyaksikan, pertunjukan ini bukan hanya hiburan, melainkan pengalaman budaya yang mengesankan.
Pada masa itu, Wayang Orang Sriwedari memang tengah berada di puncak popularitas. Kehadiran mereka kerap menghiasi halaman-halaman media massa, termasuk De Nieuwe Vorstenlanden dan Soerabaijasche Handelsblad, memuat laporan tentang pertunjukan mereka.
Keikutsertaan mereka dalam acara kerajaan membuktikan bahwa seni tradisional Indonesia memiliki daya tarik lintas budaya dan mampu tampil dalam konteks formal sekalipun.
Pertunjukan malam itu menjadi lebih dari sekadar pergelaran seni. Ia menjadi simbol pertemuan antara budaya Jawa dan tradisi monarki Eropa, sekaligus penanda bagaimana seni pertunjukan lokal dapat menjembatani dua dunia yang berbeda.
Wayang Orang Sriwedari, melalui panggung istimewa itu, tidak hanya menghibur, tetapi juga mencatatkan diri dalam sejarah budaya yang lebih luas. (LSA)