LYON | Priangan.com – Dahulu, metode ilmiah kerap diyakini tidak dapat membantu mengungkap jejak kriminalitas dan cenderung dipandang sebelah mata. Kesaksian saksi mata dan alibi dianggap lebih dapat diandalkan dalam mengungkap kebenaran sebuah kasus. Namun, pada awal abad ke-20, seorang ilmuwan asal Prancis dengan latar belakang kedokteran dan hukum, Edmond Locard, memberi ruang bagi pemeriksaan ilmiah untuk menjadi metode yang paling efektif dalam mengungkap kebenaran kasus kriminal. Dari sinilah dunia forensik modern, seperti yang dikenal saat ini, mulai terbentuk.
Pada tahun 1910, Locard menawarkan pendekatan yang berbeda kepada kepolisian Lyon, Prancis. Ia mengusulkan agar bukti dari tempat kejadian perkara diperiksa secara ilmiah dan sistematis. Alih-alih disambut dengan fasilitas yang memadai, usulan tersebut hanya direspons dengan dua ruangan kecil di loteng gedung pengadilan serta dua orang asisten.
Meskipun demikian, keterbatasan tersebut tidak memudarkan visi utamanya. Locard mulai menunjukkan bahwa kejahatan tidak hanya dapat diungkap melalui cerita manusia, tetapi juga melalui benda-benda kecil yang ditinggalkan pelaku. Dua tahun kemudian, hasil kerjanya mulai mendapatkan pengakuan. Pada 1912, kepolisian Lyon secara resmi menetapkan ruang kerja tersebut sebagai laboratorium kepolisian. Pengakuan ini menjadikannya laboratorium ilmu forensik pertama di dunia yang berfungsi secara institusional.
Cara berpikir Locard tidak terlepas dari latar belakang pendidikannya. Dilansir dari Forensic’s Blog, Locard lahir pada 13 Desember 1877 di Saint-Chamond. Ia menempuh pendidikan kedokteran dan hukum di Lyon. Ia kemudian menjadi asisten Alexandre Lacassagne, seorang profesor dan kriminolog terkemuka. Di bawah bimbingan Lacassagne, Locard semakin meyakini bahwa penyelidikan kriminal harus bertumpu pada metode ilmiah yang dapat diuji dan dipertanggungjawabkan.
Keyakinan ini mendorong Locard untuk memusatkan perhatian pada unsur-unsur kecil yang sering diabaikan oleh penyelidik pada masanya. Ia meneliti unsur-unsur kecil yang kerap dianggap tidak penting, seperti debu, tanah, serat kain, tulisan tangan, tinta, dan sidik jari. Pendekatan ini sangat berbeda dari praktik umum yang lebih menonjolkan petunjuk besar dan dramatis. Locard justru percaya bahwa jejak mikroskopis lebih dapat dipercaya karena tidak dipengaruhi oleh ingatan, emosi, ataupun kebohongan.
Pengalaman selama Perang Dunia I semakin memperkuat pandangannya. Sebagai pemeriksa medis untuk Dinas Rahasia Prancis, Locard menganalisis seragam tentara yang tewas untuk menentukan penyebab dan lokasi kematian mereka. Dari noda, robekan, dan bekas tertentu pada pakaian, ia menyusun kesimpulan yang akurat. Pengalaman ini menunjukkan bahwa benda mati pun dapat “berbicara” jika diperiksa dengan cara yang tepat.
Dari rangkaian pengalaman itulah, Locard merumuskan prinsip yang dikenal sebagai “every contact leaves a trace” atau Prinsip Pertukaran Locard. Prinsip ini menyatakan bahwa setiap kontak akan meninggalkan jejak.
Gagasan tersebut berangkat dari kenyataan sederhana bahwa materi selalu berpindah. Ketika seseorang bersentuhan dengan orang lain atau dengan lingkungannya, akan selalu ada partikel yang tertinggal dan terbawa, sekecil apa pun ukurannya. Dengan demikian, tidak ada kejahatan yang benar-benar bersih tanpa jejak.
Pemikiran ini kemudian diperkuat oleh Paul L. Kirk, ilmuwan forensik asal Amerika Serikat. Kirk menegaskan bahwa bukti fisik pada dasarnya tidak dapat berbohong atau sepenuhnya menghilang. Jika bukti tidak ditemukan, hal itu lebih sering disebabkan oleh kegagalan manusia dalam mencari, memeriksa, atau menafsirkan bukti tersebut, bukan karena jejak itu memang tidak pernah ada. Pandangan ini semakin menempatkan bukti fisik sebagai unsur penting dalam proses penegakan hukum.
Salah satu pembuktian paling nyata dari Prinsip Pertukaran Locard terjadi dalam kasus pembunuhan Marie Latelle. Seorang perempuan muda ditemukan tewas akibat dicekik di rumah orang tuanya. Kecurigaan mengarah pada tunangannya, Emile Gourbin, yang dikenal cemburu dan posesif. Namun, Gourbin memiliki alibi yang tampak kuat. Ia disebut sedang bermain kartu dengan teman-temannya pada saat pembunuhan terjadi, dan kesaksian mereka terdengar meyakinkan.
Pemeriksaan terhadap tubuh korban menunjukkan bahwa Marie Latelle melakukan perlawanan keras. Goresan di lehernya menandakan bahwa ia sempat mencakar penyerangnya. Dari temuan tersebut, Locard menarik kesimpulan logis: jika korban mencakar pelaku, maka sisa kontak itu seharusnya masih tertinggal di bawah kuku pelaku.
Locard kemudian mengikis bagian bawah kuku Gourbin dan memeriksanya menggunakan mikroskop. Ia menemukan debu berwarna merah muda yang sangat halus, yang kemudian diidentifikasi sebagai bedak wajah kosmetik. Pada masa itu, kosmetik belum diproduksi secara massal seperti saat ini. Banyak perempuan memesan bedak dengan komposisi khusus dari apotek tertentu.
Analisis lanjutan menunjukkan bahwa bedak tersebut mengandung pati beras, seng oksida, bismut, magnesium stearat, serta pigmen merah Venesia. Berbekal profil kimia ini, Locard mendatangi berbagai apotek di Lyon hingga menemukan tempat yang meracik formula yang sama untuk Marie Latelle.
Bukti tersebut menghubungkan Gourbin secara langsung dengan korban melalui kontak fisik yang tidak dapat disangkal. Ketika dihadapkan pada bukti tersebut, Gourbin akhirnya mengaku. Ia menjelaskan bahwa dirinya telah memajukan jam di ruang kartu untuk menipu teman-temannya agar percaya waktu sudah larut. Dengan cara itu, ia menyelinap pergi, membunuh Marie, lalu kembali tanpa menimbulkan kecurigaan.
Pengakuan ini menegaskan peran bukti mikroskopis dalam membongkar alibi yang tampak sempurna. Putusan terhadap Emile Gourbin menjadi momen penting dalam sejarah hukum pidana dan menjadi salah satu kasus pembunuhan paling awal yang diputuskan berdasarkan analisis bukti jejak mikroskopis.
Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa pendekatan ilmiah mampu mengungkap kebenaran secara lebih andal dibandingkan pengakuan atau kesaksian semata.
Hingga kini, Prinsip Pertukaran Locard menjadi dasar berbagai teknik forensik modern, mulai dari analisis DNA hingga pemeriksaan residu tembakan. Meskipun teknologi terus berkembang, prinsip dasarnya tetap sama, yakni bahwa setiap peristiwa fisik meninggalkan bekas yang dapat ditelusuri.
Edmond Locard kemudian pensiun sebagai kepala laboratorium kepolisian Lyon pada usia 73 tahun. Ia meninggal pada 1966 setelah menangani lebih dari sepuluh ribu kasus kriminal sepanjang hidupnya dan dikenal hingga kini sebagai ‘Sherlock Holmes dari Prancis’. (LSA)

















