JAKARTA | Priangan.com – Transfusi darah merupakan salah satu prosedur medis yang kini dianggap lazim dan krusial dalam penyelamatan nyawa. Namun, praktik ini berakar pada sejarah yang panjang, penuh percobaan berisiko, dan perdebatan ilmiah yang tajam. Jauh sebelum transfusi menjadi tindakan medis yang terstandar, upaya memindahkan darah dari satu makhluk ke makhluk lain pernah dipandang sebagai eksperimen berbahaya yang bahkan dilarang oleh negara dan lembaga keagamaan.
Salah satu titik awal paling penting dalam sejarah tersebut terjadi di Prancis pada pertengahan abad ke-17, melalui percobaan yang dilakukan oleh seorang dokter muda bernama Jean-Baptiste Denys.
Selama berabad-abad, darah tidak diperlakukan sebagai cairan biologis yang berfungsi secara mekanis, melainkan sebagai unsur esensial yang sarat makna simbolik. Dalam tradisi medis Yunani dan Eropa abad pertengahan, darah diyakini mewakili kehidupan, keberanian, dan temperamen manusia. Penyakit dianggap muncul akibat ketidakseimbangan empat humor tubuh, sehingga pengobatan yang umum dilakukan justru berupa pengeluaran darah, bukan penggantiannya. Dalam kerangka pemikiran ini, gagasan mentransfusikan darah hampir tidak memiliki tempat.
Perubahan mendasar mulai terjadi pada awal abad ke-17. Pada tahun 1628, dokter Inggris William Harvey menerbitkan karya monumental De Motu Cordis, yang menjelaskan bahwa darah beredar secara terus-menerus dalam sistem tertutup yang digerakkan oleh jantung. Penemuan ini menggeser cara pandang terhadap tubuh manusia secara radikal.
Darah tidak lagi dipahami sebagai zat statis atau simbolik, melainkan sebagai cairan yang bergerak, dapat diukur, dan secara teoritis dapat dimanipulasi. Sejak saat itu, darah mulai dilihat sebagai elemen biologis yang mungkin digantikan ketika hilang atau rusak.
Perkembangan ini sejalan dengan bangkitnya budaya eksperimentalisme di Eropa pada pertengahan abad ke-17. Di Inggris, Royal Society mendorong pengujian empiris terhadap berbagai teori alam.
Di Italia, Accademia del Cimento mengembangkan pendekatan mekanistik dalam mempelajari tubuh. Dalam konteks inilah, eksperimen transfusi darah pertama kali dilakukan pada hewan. Anjing menjadi subjek utama, dengan pembuluh darah mereka dihubungkan menggunakan tabung sederhana dari bulu atau logam. Pada tahun 1665, Richard Lower berhasil melakukan transfusi darah antaranjing dan menunjukkan bahwa hewan dapat bertahan hidup setelah menerima darah dari individu lain.
Keberhasilan ini memperkuat keyakinan bahwa transfusi mungkin diterapkan pada manusia. Gagasan tersebut menarik perhatian Jean-Baptiste Denys, seorang dokter Prancis yang lahir sekitar tahun 1640. Selain pendidikan kedokteran, Denys memiliki latar belakang matematika, yang membuatnya selaras dengan pendekatan rasional dan eksperimental.
Pada usia yang relatif muda, ia telah dipercaya sebagai dokter pribadi Raja Louis XIV. Akses terhadap jaringan intelektual dan informasi ilmiah Eropa memberinya posisi strategis untuk mengikuti perkembangan eksperimen transfusi yang dilakukan di Inggris.
Bersama seorang ahli bedah-tukang cukur bernama Paul Emmerez, Denys mulai melakukan transfusi pada hewan dan mencatat hasilnya secara sistematis. Ia mengamati perubahan perilaku, pola makan, serta kondisi fisik hewan-hewan yang menjadi subjek eksperimen.
Meski tidak semua percobaan berjalan tanpa komplikasi, Denys menilai hasil awal cukup stabil untuk melangkah lebih jauh. Ia sampai pada keyakinan bahwa darah dari hewan yang dianggap jinak, seperti domba atau anak sapi, dapat ditransfusikan ke manusia dengan risiko minimal, bahkan berpotensi membawa efek menenangkan.
Pandangan ini tidak diterima oleh Fakultas Kedokteran Paris yang cenderung konservatif. Karena itu, Denys menjalankan penelitiannya di luar institusi resmi, dengan dukungan akademi swasta milik Henri Louis Habert de Montmor. Lingkaran ini memberi ruang bagi eksperimen yang tidak mendapat legitimasi dari otoritas medis negara.
Dilansir dari Amusing Planet, pada Juni 1667, Denys melakukan transfusi darah pertama yang terdokumentasi pada manusia. Pasiennya adalah seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun yang mengalami demam berkepanjangan dan melemah akibat pengeluaran darah berlebihan. Menggunakan tabung dari bulu angsa dan kanula perak, Denys mentransfusikan sekitar 12 ons darah domba. Prosedur tersebut tidak hanya tidak berakibat fatal, tetapi justru diikuti dengan perbaikan kondisi pasien.
Keberhasilan ini segera menyebar ke berbagai penjuru Eropa dan menempatkan Denys sebagai figur penting dalam dunia medis. Transfusi selanjutnya pada seorang tukang daging paruh baya juga dilaporkan berhasil.
Namun, keberhasilan awal ini tidak bertahan lama. Seorang pasien berikutnya meninggal dunia setelah menjalani prosedur serupa. Meskipun penyebab kematiannya tidak sepenuhnya jelas, peristiwa tersebut mulai memunculkan keraguan terhadap keamanan transfusi lintas spesies.
Puncak kontroversi terjadi pada kasus Antoine Mauroy, seorang pria dengan gangguan mental berat. Denys meyakini bahwa kondisi Mauroy dapat diredakan dengan mentransfusikan darah anak sapi yang dianggap memiliki temperamen lembut. Setelah prosedur dilakukan, Mauroy mengalami serangkaian gejala berat, seperti demam tinggi, mual, diare, mimisan, urin berwarna gelap, dan keringat berlebih.
Saat ini, gejala-gejala tersebut dikenal sebagai reaksi transfusi hemolitik akut akibat ketidakcocokan darah. Meski Mauroy sempat pulih sementara, kondisinya kembali memburuk dalam beberapa bulan. Setelah transfusi lanjutan yang juga bermasalah, ia meninggal dunia keesokan harinya.
Kematian Mauroy memicu tuduhan pembunuhan terhadap Denys. Persidangan yang menyusul tidak hanya menyangkut satu kasus medis, tetapi juga mencerminkan konflik antara pendekatan ilmiah eksperimental dan otoritas medis tradisional.
Penyelidikan akhirnya membebaskan Denys dari tuduhan, bahkan mengungkap dugaan bahwa Mauroy diracuni oleh istrinya sendiri. Meski demikian, pengadilan menetapkan bahwa transfusi darah pada manusia hanya boleh dilakukan dengan persetujuan Fakultas Kedokteran Paris. Keputusan ini secara efektif menghentikan penelitian Denys.
Tak lama kemudian, transfusi darah dilarang secara resmi di Prancis dan Inggris. Gereja Katolik turut menyatakan penolakan. Selama hampir 150 tahun berikutnya, praktik transfusi darah dianggap terlalu berbahaya untuk dipertimbangkan kembali.
Minat terhadap transfusi baru muncul kembali pada awal abad ke-19, ketika dokter Inggris James Blundell menggunakan transfusi antarmanusia untuk menangani perdarahan pascapersalinan.
Terobosan paling menentukan terjadi pada tahun 1900 melalui penemuan sistem golongan darah ABO oleh Karl Landsteiner. Penemuan ini menjelaskan penyebab reaksi fatal seperti yang dialami Mauroy dan menjadikan transfusi sebagai prosedur medis yang aman dan terkontrol.
Kini, transfusi darah menjadi bagian tak terpisahkan dari pengobatan modern, didukung oleh bank darah, teknik penyimpanan, dan sistem distribusi yang canggih. Praktik yang dahulu dianggap nekat dan terlarang telah berkembang menjadi salah satu pencapaian penting dalam sejarah kedokteran. (LSA)

















