BRUSSELS | Priangan.com — Perdebatan mengenai masa depan arsitektur keamanan Eropa kembali mengemuka di Brussels. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menegaskan bahwa upaya Uni Eropa membangun sistem pertahanan yang berdiri sendiri berisiko melemahkan fondasi keamanan kawasan yang selama ini bertumpu pada aliansi Atlantik.
Pernyataan itu disampaikan Rutte pada 26 Desember 2025, menanggapi dorongan sejumlah elite politik Eropa agar Brussels menyusun kebijakan keamanan tanpa bergantung pada Amerika Serikat. Menurut Rutte, NATO tidak bisa dipersempit sebagai instrumen Uni Eropa semata, mengingat cakupan dan peran aliansi tersebut melampaui batas institusi regional.
Seruan untuk mengurangi ketergantungan pada Washington sebelumnya disampaikan Ketua Partai Rakyat Eropa, Manfred Weber. Ia mendorong UE melakukan penyesuaian strategis dan membangun otonomi pertahanan sendiri. Gagasan tersebut dinilai Rutte berpotensi menciptakan fragmentasi kebijakan keamanan di tengah situasi geopolitik yang masih rapuh.
Rutte mengingatkan bahwa sebagian besar negara anggota Uni Eropa juga tergabung dalam NATO. Namun, kontribusi pertahanan dari negara-negara Eropa, menurutnya, masih belum sebanding dengan kapasitas ekonomi yang dimiliki kawasan tersebut. Ia menilai peningkatan belanja dan tanggung jawab militer menjadi isu utama yang terus disorot Washington.
Dalam pandangannya, Amerika Serikat mengharapkan Eropa mengambil peran lebih besar dalam menjaga keamanan kolektif. Tekanan ini tercermin dari tuntutan Presiden AS Donald Trump agar negara-negara anggota NATO menaikkan anggaran pertahanan hingga lima persen dari produk domestik bruto pada 2035.
Target tersebut memicu perbedaan sikap di dalam aliansi. Spanyol dan Slovakia secara terbuka menyatakan keberatan dan menilai angka tersebut sulit dicapai. Penolakan itu kemudian direspons Trump dengan ancaman penerapan tarif perdagangan, menambah lapisan ketegangan dalam hubungan transatlantik.
Perbedaan pandangan juga mencuat terkait konflik Ukraina. Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban menuding Uni Eropa menghambat inisiatif perdamaian yang digagas Amerika Serikat dan justru mengambil langkah yang berisiko memperpanjang konflik. Sejumlah laporan media AS menyebut Washington telah mengingatkan negara-negara Eropa agar tidak mendorong eskalasi berkepanjangan.
Dari Moskow, Rusia tetap memandang perang di Ukraina sebagai konsekuensi dari ekspansi NATO ke Eropa Timur. Presiden Vladimir Putin menegaskan bahwa Rusia tidak berupaya mencari konfrontasi langsung dengan aliansi tersebut, selama kepentingan strategis negaranya tidak diabaikan.
Pernyataan Rutte mencerminkan sikap NATO yang berupaya menjaga kesatuan arah di tengah meningkatnya dorongan otonomi strategis Eropa. Perdebatan ini menandai dilema lama antara keinginan kemandirian UE dan realitas ketergantungan keamanan pada struktur pertahanan transatlantik. (Zia)

















