Miris! Korban Banjir Garut Tinggal di Kandang Ayam, DPRD Minta Perbaikan Rumah Diprioritaskan

GARUT | Priangan.com – Musibah banjir yang terjadi di Kabupaten Garut pada akhir Juni 2025 menyisakan kisah memilukan. Salah satunya dialami oleh keluarga Lukman dan Siti Julaeha, warga Kampung Lemah Neundeut, Kelurahan Lebakjaya, Kecamatan Karangpawitan, yang kini terpaksa tinggal di bekas kandang ayam usai rumah mereka ambruk diterjang luapan Sungai Cimanuk.

Banjir yang melanda pada Sabtu, 28 Juni 2025, tidak hanya merendam ratusan rumah, tetapi juga merobohkan bangunan milik warga. Di antara yang terdampak, rumah Lukman hancur total, sementara satu rumah lainnya milik Emak Isah, seorang janda lansia, mengalami kerusakan berat dan nyaris ambruk. Namun, laporan resmi atas kerusakan ini baru masuk ke pihak Kelurahan Lebakjaya pada 8 Juli 2025, hampir sepuluh hari setelah kejadian.

Tak menunggu lama, Anggota DPRD Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan, langsung meninjau lokasi bersama Lurah Lebakjaya, Muhammad Nurramdan, pada Kamis (10/07/2025). Saat mengunjungi keluarga Lukman, Yudha menyaksikan kondisi yang jauh dari kata layak. Keluarga tersebut kini berteduh di bekas kandang ayam yang disulap menjadi tempat tinggal darurat. Dindingnya hanya berupa bilik bambu, dan atapnya ditutupi seng bekas seadanya.

“Jujur, saya sangat prihatin. Mereka bukan hanya kehilangan rumah, tapi juga kehilangan rasa aman dan layak untuk hidup. Tinggal di bekas kandang ayam dengan dua anak bukanlah pilihan, tapi keterpaksaan karena belum ada bantuan konkret sampai saat ini,” ujar Yudha.

Yudha kemudian memberikan bantuan berupa uang tunai dan sembako untuk membantu meringankan beban mereka. Namun, menurutnya, bantuan yang lebih penting adalah tindakan nyata dari pemerintah daerah.

“Usai meninjau lokasi, saya langsung berkomunikasi dengan Pak Bupati Syakur Amin dan Pak Sekda Nurdin Yana. Alhamdulillah, responnya positif. Kami akan dorong kolaborasi pendanaan antara CSR perusahaan, BAZNAS, dan iuran ASN agar rumah Bu Siti Julaeha dan Emak Isah bisa segera diperbaiki,” jelasnya.

Lihat Juga :  Pesawat Legendaris Kini Jadi Ikon Baru Garut, Edukasi Dirgantara Mengudara dari Haruman Jingga

Ia menekankan bahwa pemerintah tidak perlu menunggu mekanisme dari Dinas Perkim untuk menangani kasus ini karena sifatnya sangat mendesak. “Program reguler dari Perkim bisa memakan waktu lama, sementara keluarga ini tidak bisa menunggu. Mereka harus segera mendapat tempat tinggal yang layak,” tegasnya.

Lihat Juga :  Viman Dinilai Tak Tegas, DPRD: Pemerintah Kota Tasik Terancam Kehilangan Kepercayaan Publik

Tak hanya keluarga Lukman, kondisi rumah milik Emak Isah juga menjadi perhatian Yudha. Ia menilai para lansia seperti Emak Isah tidak bisa dibiarkan hidup dalam bangunan yang hampir roboh. Menurutnya, pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama menunjukkan kepedulian.

“Ini tanggung jawab kita bersama. Jangan biarkan mereka merasa ditinggalkan oleh negara. Saya mengajak semua pihak—dari tokoh masyarakat, organisasi sosial, hingga pelaku usaha—untuk ikut ambil bagian membantu mereka yang terdampak,” ujarnya.

Bagi Yudha, kasus ini adalah cermin dari betapa pentingnya kecepatan dan kepekaan dalam menangani dampak bencana. Ia berharap tragedi ini menjadi pelajaran agar pemerintah daerah memiliki sistem tanggap darurat yang lebih baik dan tidak menunggu laporan terlalu lama untuk bertindak.

“Satu keluarga tinggal di kandang ayam adalah tamparan bagi kita semua. Ini bukan hanya soal kemiskinan, tapi soal keadilan sosial dan tanggung jawab negara terhadap warganya,” pungkasnya.(Az)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos