Menyingkap TP-Ajax dan Runtuhnya Demokrasi Iran Tahun 1953

TEHERAN | Priangan.com – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat terus menjadi sorotan dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan keduanya diwarnai konfrontasi terbuka, mulai dari pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani oleh drone AS pada 2020, hingga sanksi ekonomi yang semakin menjerat. Tuduhan terhadap program nuklir Iran dilontarkan berulang kali, dan bayang-bayang konflik terbuka tak pernah benar-benar menghilang dari kawasan Timur Tengah.

Namun di balik semua ketegangan kontemporer ini, tersimpan luka sejarah yang jarang dibahas secara mendalam, tetapi masih membekas kuat dalam ingatan kolektif rakyat Iran, yaitu tentang kudeta tahun 1953.

Kudeta ini bukan sekadar penggulingan kekuasaan, melainkan cikal bakal dari krisis panjang yang membentuk hubungan Iran–AS hingga hari ini.

Kala itu, Amerika Serikat dan Inggris secara diam-diam merancang dan melaksanakan operasi rahasia untuk menjatuhkan Perdana Menteri Iran yang sah, Mohammad Mossadegh.

Selama bertahun-tahun, peran langsung CIA dalam kudeta ini nyaris tak diakui. Namun, sebuah dokumen rahasia CIA yang bocor akhirnya mengungkap bagaimana peristiwa itu sebenarnya dirancang dan dijalankan.

Operasi ini dijalankan dengan nama sandi TP-Ajax, sebuah kolaborasi antara intelijen AS dan Inggris yang bertujuan menggulingkan Mossadegh dan menjaga dominasi Barat atas kekayaan minyak Iran. Selain alasan ekonomi, operasi ini juga didorong oleh kekhawatiran akan meningkatnya pengaruh Uni Soviet di Iran pasca-Perang Dunia II.

Namun menurut laporan internal CIA yang diperoleh The New York Times, keberhasilan operasi ini lebih ditentukan oleh keberuntungan dan manuver mendadak daripada rencana yang matang. Bahkan, CIA awalnya meragukan Shah Pahlevi sebagai sosok pemimpin, ia dianggap lemah, ragu-ragu, dan terlalu takut untuk mengambil langkah berani.

Namun, lewat bujukan psikologis, tekanan politik, dan janji dukungan penuh dari Barat, CIA berhasil meyakinkan Shah untuk terlibat aktif dalam menggulingkan perdana menterinya sendiri. Badan tersebut juga menjalankan berbagai manuver manipulatif di lapangan dengan menyuap media lokal untuk menyebarkan propaganda anti-Mossadegh, memalsukan aksi-aksi kekerasan agar tampak dilakukan oleh kelompok komunis, hingga menggerakkan demonstrasi palsu guna menciptakan kesan kekacauan sipil.

Lihat Juga :  Ketika Dunia Terbelah, Dasasila Bandung Hadir Sebagai Jalan Tengah

Salah satu hal paling mencengangkan dari dokumen ini adalah pengakuan CIA bahwa mereka secara sengaja membentuk opini publik Iran dengan menyebarkan berita bohong dan kartun politik yang memfitnah Mossadegh.

Meskipun operasi ini disusun dengan detail, pada malam hari yang direncanakan untuk kudeta, sebagian besar skenario justru gagal. Agen-agen CIA bahkan bersiap meninggalkan Iran. Namun, perwira militer Iran yang telah direkrut CIA bergerak secara mandiri, mengambil alih komando, dan membalikkan keadaan.

Hingga dua hari kemudian, Shah kembali menduduki tampuk kekuasaan. CIA pun mengalirkan dana sebesar lima juta dolar untuk memperkuat pemerintahan baru.

Tokoh utama di balik penyusunan operasi ini adalah Dr. Donald N. Wilber, seorang arsitek sekaligus perencana senior CIA. Dalam catatan rahasianya yang ditulis pada Maret 1954, ia menjelaskan bahwa kudeta di Iran memberikan pelajaran penting bagi operasi-operasi CIA selanjutnya. Ia bahkan menyayangkan bahwa pengalaman ini tidak dipelajari secara serius oleh tim yang merancang invasi Teluk Babi di Kuba pada 1961.

Lihat Juga :  Sebelum Podcast dan Radio, Dunia Mendengar Berita Lewat Telepon

Dokumen rahasia tersebut juga mengungkap bahwa Inggris memulai rencana kudeta sejak 1952, setelah parlemen Iran menasionalisasi industri minyak dan mengangkat Mossadegh sebagai perdana menteri.

Inggris yang selama puluhan tahun menguasai minyak Iran melalui Anglo-Iranian Oil Company, merasa terancam dan mulai menyusun rencana penggulingan kekuasaan. Ketika rencana ini pertama kali diajukan kepada pemerintahan Truman di AS, responsnya negatif. Namun situasi berubah saat Presiden Eisenhower menjabat. Karena kekhawatiran terhadap komunisme, Washington melihat peluang untuk bersekutu dengan Inggris dalam menjalankan operasi bersama.

Langkah mereka kian mantap setelah seorang jenderal Iran menghubungi Kedutaan AS dan menyatakan kesiapan mendukung kudeta. CIA lalu menunjuk Jenderal Fazlollah Zahedi sebagai tokoh yang akan menggantikan Mossadegh.

Namun masih ada satu hambatan utama, yaitu Shah sendiri. Dalam dokumen CIA, Shah digambarkan sebagai sosok plin-plan yang diselimuti ketakutan, bahkan terhadap Inggris yang mendukungnya. Ia tidak memiliki karakter kuat untuk memimpin operasi berisiko seperti ini.

Lihat Juga :  Dua Perempuan di BPUPKI, Inspirasi Perjuangan Kesetaraan Gender di Era Kemerdekaan

Untuk mengatasi keraguan itu, CIA dan intelijen Inggris menyusun skenario meyakinkan bahwa dukungan dari Barat bersifat mutlak. Dalam sebuah pertemuan rahasia di Siprus, Dr. Wilber bertemu dengan Norman Darbyshire, kepala intelijen Inggris di Iran untuk menyusun skema final. Bahkan dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak menyembunyikan informasi satu sama lain, termasuk identitas agen-agen utama mereka di Iran, cerminan bahwa sekalipun bekerja sama, rasa saling curiga tetap ada di antara dua kekuatan besar ini.

Kudeta ini menandai awal dari hubungan yang sangat berbeda antara Iran dan Amerika Serikat. Shah yang kembali berkuasa memerintah dengan tangan besi selama lebih dari dua dekade dengan dukungan militer dan politik dari Washington.

Namun, kediktatoran yang dibangunnya justru menyulut kemarahan rakyat. Pada 1979, gelombang kemarahan itu meledak dalam Revolusi Islam. Massa menguasai Kedutaan Besar AS di Teheran, menyandera para diplomat, dan menyebutnya sebagai “sarang mata-mata” yang selama ini memanipulasi Iran.

Sejak saat itu, peristiwa tahun 1953 menjadi simbol luka historis yang sulit sembuh. Ia menjadi alasan mengapa sebagian besar warga Iran tetap menaruh curiga terhadap setiap bentuk campur tangan asing, khususnya dari Amerika Serikat.

Bahkan ketika rezim berganti, perasaan itu tetap hidup. Menteri Luar Negeri AS Madeleine Albright pernah menyampaikan penyesalan resmi pada tahun 2000, menyebut kudeta tersebut sebagai kemunduran besar bagi perkembangan politik Iran, meski juga menyatakan bahwa tindakan pemerintahan Eisenhower saat itu dilandasi pertimbangan strategis.

Kini, berkat bocoran dokumen rahasia, sejarah yang selama ini dikaburkan akhirnya terbuka lebar. Dunia bisa melihat bagaimana kekuasaan bisa mengatur ulang takdir sebuah bangsa lewat operasi rahasia dan bagaimana trauma masa lalu bisa terus membentuk politik global di masa kini.

Kudeta 1953 bukan hanya bagian dari masa lalu Iran, ini adalah cermin bagi siapa pun yang ingin memahami mengapa kepercayaan itu begitu sulit dipulihkan ketika telah dihancurkan oleh intervensi. (LSA)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos