TASIKMALAYA | Priangan.com – Namanya Ahmad Hasan. Usianya sudah menginjak 74 tahun. Meski tubuhnya mulai renta, semangat Hasan untuk mengabdi dalam dunia pendidikan tak pernah luntur.
Empat puluh tujuh tahun sudah ia melarungkan sebagian hidupnya di ruang kelas MTs Nurul Falah Sengkol, Kawalu, Kota Tasikmalaya, sebagai seorang guru bahasa arab. Hampir setengah abad pula statusnya tidak pernah berubah. Ya, guru honorer. Tak ada pengangkatan, tak ada jaminan masa tua, upahnya pun amat sangat kecil.
Meski begitu, walau dunia pendidikan tak pernah memberinya kemapanan, baginya, sekolah adalah rumah yang selalu ia rawat dengan penuh ketulusan. Setiap pagi, ia pergi membelah kabut dengan sepeda motor tuanya. Menembus dinginnya subuh yang menggigit tulang, hanya untuk menyalakan pijar dalam benak dan pikiran anak bangsa.
Jauh sebelum bergulat dengan kapur dan papan tulis, Hasan pernah menyimpan cita-cita menjadi seorang kiai. Namun, jauh panggang dari api, mimpi itu hanya vbisa tersimpan di dalam benaknya. Realitas hidup justru membawanya ke jalan yang jauh berbeda.
Pada tahun 1975, desakan ekonomi memaksanya merasakan getirnya hidup di jalanan. Ia terpaksa harus menggantungkan nasib di atas pedal becak. Profesi itu ia jalani secara diam-diam.
“Jadi dulu mertua saya punya becak. Biasanya becak itu disimpan di buruan (halaman,-red), saya sembunyi-sembunyi minjem hanya untuk mencari uang. Buat makan anak dan istri saya. Karena pada saat itu, saya sudah punya dua orang anak, sedangkan saya belum punya profesi yang mapan, sedih hidup saya,” tutur Hasan, mengisahkan kembali kenangan masa lalunya, Senin, 9 Februari 2025.
Ada banyak pahit yang harus Hasan telan selama menarik becak. Salah satunya terjadi pada suatu malam ketika ia diberhentikan polisi karena melintas di jalur yang dilarang. Malam itu, Hasan mendapat order ke Gedung Bioskop Hegarmanah. Nilai orderannya Rp50. Demi mengejar penumpang, ia melewati Jalan Masjid Agung, Kota Tasikmalaya, yang notebene tak boleh dilalui becak.
Ia pun dihentikan. Tanpa banyak kata, polisi menyita semua pentil roda becaknya. Praktis, becak itu langsung tak bisa berjalan. Hasan hanya bisa berdiri di pinggir jalan, menatap becaknya yang lumpuh, sementara malam kian larut. Hasan mengaku, waktu kejadian itu sekitar pukul 11 malam.
Perasaannya campur aduk. Pulang ke rumah, takut dimarahi mertua. Tidak pulang, ia tak tahu harus ke mana. Di tengah kebingungan itu, Hasan akhirnya berani mengambil keputusan. Ia lantas mendorong becaknya, bukan mengayuhnya. Perlahan, Hasan menyusuri jalanan malam untuk menemui sesama penarik becak, berharap bisa diberi pentil roda.
“Alhamdulillah-nya, ada seorang teman yang baik. Kala itu saya bilang kalau saya pulang dengan keadaan begini mau gimana, apalagi besok mau dipakai mertua. Akhirnya saya diberi-lah dua pentil becak. Berarti tinggal satu lagi, kan, lalu saya gunakan uang penghasilan narik yang Rp50 itu buat beli sisa pentil lainnya,” bebernya.
Cobaan hidup Hasan tak berhenti di situ. Ketika ia dibangunkan sebuah warung sederhana oleh orang tua dan mertuanya, lagi-lagi kemalangan menimpa dirinya. Pernah satu waktu, satu-satunya warung sederhana yang jadi tumpuan hidupnya itu dibobol maling. Semua barang dagangannya habis, bahkan satu drum minyak tanah yang ia kumpulkan susah payah pun lenyap.
Pagi itu, Hasan hanya duduk terdiam menatap warungnya yang kosong melompong. Ia tidak menangis, tapi di titik itulah ia mulai berhenti mengejar dunia. Rentetan kegagalan usaha ini justru menjadi titik balik baginya untuk berserah diri. Dalam doanya, ia meminta kepada Allah SWT agar ditunjukkan pekerjaan yang benar-benar bermanfaat bagi orang lain.
Pintu itu lantas terbuka di tahun 1979 saat ia diminta mendoakan ibu kepala sekolah MTs Nurul Falah yang tengah terbaring sakit. Mengetahui latar belakang Hasan sebagai lulusan pesantren yang mahir berbahasa Arab, Hasan pun langsung ditawari untuk mengajar di MTs dan MA Nurul Falah.
“Saya sempat bingung karena hanya punya ijazah SD, sementara harus mengajar di tingkat Mts dan MA. Tapi setelah salat istikharah, saya mantapkan hati untuk menerima tawaran itu,” kenang Hasan.
Pada awalnya, Hasan mengira profesi guru akan memberinya penghasilan besar. Namun, kenyataan berkata lain. Perkiraannya jauh meleset. Gaji pertama yang ia terima selama satu bulan mengajar hanya Rp1.750.
Padahal, mata pelajaran yang ia ajarkan kepada murid-muridnya bukan pelajaran enteng. Menurutnya, mengajar bahasa arab tak semudah mengajar bahasa lainnya. Ada tulisan yang sedikit saja tidak sesuai dengan yang seharusnya maka akan menyebabkan salah arti. Pun dengan pelafalan, salah saja melafalkan panjang pendek harkat, maka artinya akan salah nbesar.
“Gak akan ada yang percaya. Dulu saya merokok saja sehari satu bungkus. Harga rokoknya waktu itu sudah Rp50. Kalau dikalikan sebulan sudah berapa. Nggak akan cukup kalau untuk kebutuhan hidup,” jelasnya.
Selama puluhan tahun, kesabarannya diuji berulang kali. Pun dalam urusan belajar mengajar. Selain menerima upah yang kecil, ia juga pernah mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari murid. Hasan bercerita pernah dilempar sandal oleh siswanya sendiri hanya karena masalah usianya yang sudah tua. Walau demikian, ia tidak pernah menaruh dendam atau sakit hati.
Peluang untuk hidup lebih layak sebenarnya sempat ada di tahun 1980-an saat ia ikut merintis sekolah di Salopa. Janji pengangkatan PNS, katanya sempat terdengar, namun seketika kandas karena ia tidak punya ijazah S1.
Tembok administratif itu boleh menghentikan langkahnya, tapi tidak dengan semangatnya. Ia tetap kembali ke kelas, kembali ke murid-muridnya, mengajar dengan ketulusan yang sama meski tanpa banyak embel-embel di belakang namanya.
Di usia senjanya sekarang, ia masih menerima honor yang sulit diterima akal. Di Mts Nurul Falah, ia hanya dibayar Rp198 ribu per bulan. Setelah dipotong BPJS, upah yang bisa ia bawa pulang terkadang paling besar hanya Rp50 ribu. Jumlah yang sangat kecil untuk ukuran pengabdian yang sudah puluhan tahun.
“Kalau di Salopa itu bapak ngajar di MTsN 4 dan MAN 7. Di sana, upahnya lebih besar. Kalau di MTsN 4, bapak diberi Rp630 ribu. Kalau di MAN 7, nilainya Rp700 ribu,” kata Hasan.
Walau penghasilannya mungkin tampak mustahil bagi sebagian orang, Hasan tak pernah mengeluh. Ada banyak tanya yang selama ini menghampiri dirinya; Bagaimana bisa ia memenuhi kebutuhan hidupnya dengan upah tak seberapa itu. Jawaban Hasan sederhana; Matematika tuhan berjalan dengan cara yang berbeda.
Kuncinya ikhlas. Itu yang selalu ia sampaikan kepada rekan-rekan guru lainnya. Hasan bilang, bekerjalah tanpa menghitung upah, nanti akan datang upah tanpa kerja. Dan ikhlas, menjadi satu-satunya pegangan hidup yang selalu ia genggam selama ini.
“Jangan pernah melihat uang-lah. Ikhlas saja. Da ketenangan hidup mah tidak akan bisa dibeli dengan uang. Bagi bapak, sebagai seorang guru bahasa arab, melihat anak-anak bisa mengerti apa yang bapak ajarkan saja sudah lebih dari cukup. Apalagi ketika melihat mereka berprestasi. Hati rasanya gembira,” pungkasnya. (Ersuwa)
















