Ki Wasyid dan Api Perlawanan Banten yang Membakar Cilegon 1888

CILEGON | Priangan.com – Pada pagi buta 9 Juli 1888, Cilegon bergolak. Pasukan rakyat yang dipimpin para ulama dan pemuka tarekat Islam menyerbu pusat-pusat kekuasaan kolonial Hindia Belanda. Penjara dikepung, pejabat kolonial diburu, dan kota sempat dikuasai oleh massa. Peristiwa ini dikenang sebagai Geger Cilegon, salah satu bentuk perlawanan paling dramatis dan terorganisasi yang pernah terjadi di Banten pada masa penjajahan.

Geger Cilegon bukan hanya bentuk kemarahan rakyat biasa. Ia merupakan peristiwa penting dalam sejarah Banten, dan menurut catatan yang dilansir dari RRI, merupakan salah satu pemberontakan rakyat terbesar setelah penghapusan Kesultanan Banten oleh VOC pada 1813.

Praktisi sejarah, Bambang Irawan, menyebut bahwa peristiwa ini adalah manifestasi kerinduan rakyat Banten terhadap pemimpin mereka sendiri. Rakyat yang sudah lelah dengan tekanan kolonial, pajak tinggi, kerja paksa, serta intervensi terhadap praktik keagamaan, akhirnya menyatukan kekuatan di bawah komando para ulama karismatik.

Pemberontakan ini juga disebut-sebut sebagai kelanjutan dari perlawanan petani di Ciomas pada 1886 dan pendahulu dari pemberontakan besar kaum tani tahun 1926.

Tokoh sentral dalam peristiwa ini adalah Haji Wasyid, atau yang dikenal sebagai Ki Wasyid. Ia adalah ulama yang aktif mengorganisir masyarakat melalui dakwah dan tarekat. Salah satu momentum penting yang menjadi pemicu adalah ketika Ki Wasyid menebang pohon yang dianggap sebagai berhala, dan karenanya ia diseret ke pengadilan kolonial tahun 1887. Rakyat melihat ini sebagai bentuk pelecehan terhadap keyakinan mereka.

Letusan Gunung Krakatau pada 1883, disusul dengan bencana kelaparan dan penyakit, memperparah penderitaan rakyat. Dalam kondisi ini, segala bentuk penindasan oleh pemerintah kolonial terasa semakin mencekik. Apalagi, kolonial juga melarang pembacaan shalawat dengan suara keras dan bahkan menghancurkan menara masjid Cilegon dengan dalih bangunan tua.

Lihat Juga :  Tragedi Ninja Banyuwangi; Pembantaian Mencekam yang Pernah Mengguncang Jawa Timur

Agama menjadi alat pembebasan dalam peristiwa ini, dan Ki Wasyid berhasil mengorganisasi masyarakat lewat pengajian dan kegiatan spiritual.

Pemberontakan dimulai dini hari 9 Juli 1888. Sekitar 100 pemberontak bergerak dari rumah Haji Ishak di Saneja menuju pusat kota Cilegon. Mereka bertemu di Pasar Jombang Wetan dan dibagi menjadi tiga kelompok, satu dipimpin Lurah Jasim, satu oleh Haji Abdulgani dan Haji Usman, dan yang ketiga oleh Haji Tubagus Ismail. Sasaran utama adalah rumah pejabat kolonial, penjara, dan kepatihan.

Dalam penyerangan tersebut, Francois Dumas, juru tulis residen, menjadi korban pertama. Ia sempat bersembunyi di rumah Tan Heng Kok namun kemudian ditemukan dan dilukai parah. Istri dan anaknya ikut menjadi korban. Kepala penjualan garam, Ulrich Bachet, juga tewas setelah sempat melawan dan menembak dua pemberontak. Di penjara, pasukan Lurah Jasim berhasil membebaskan 20 tahanan, meski sipir Mas Kramadimeja tewas.

Lihat Juga :  Kepala untuk Senapan: Jejak Mokomokai dalam Sejarah

Para pejabat kolonial dan tokoh pribumi yang loyal pada Belanda seperti Wedana Cilegon, Jaksa Cilegon, dan Ajun Kolektor akhirnya ditangkap dan digiring ke alun-alun untuk dieksekusi. Dalam salah satu eksekusi, mantan tahanan politik bernama Kasidin mengeksekusi Wedana dengan parang sebagai bentuk balas dendam. Aksi ini menandai keganasan sekaligus determinasi para pemberontak.

Pemberontak juga membunuh insinyur tambang Jacob Grondhout dan istrinya, serta beberapa pejabat lokal dan pengawal. Kota Cilegon pun sepenuhnya jatuh ke tangan rakyat.

Namun perjuangan belum selesai. Ki Wasyid memimpin pasukannya untuk merebut Serang, pusat administratif karesidenan. Ia menyampaikan bahwa gerakan ini tidak membedakan antara penjajah Eropa atau pribumi yang bersekongkol dengan Belanda.

Pemerintah kolonial tidak tinggal diam. Bupati Serang, Letnan van de Star, dan Kontrolir Serang membawa pasukan bersenjata menuju Cilegon. Pertempuran pecah di Toyomerto. Sembilan pemberontak tewas, lainnya terluka.

Lihat Juga :  Saat Nama Menjadi Gerakan: Cerita di Balik Kata 'Boikot'

Semangat perlawanan mulai meredup. Ki Wasyid dan para pengikutnya mundur ke arah selatan Banten. Hingga akhirnya pada 30 Juli 1888, mereka dikepung dan dilumpuhkan oleh pasukan kolonial di daerah Sumur.

Pemerintah kolonial Batavia sempat panik mendengar kabar bahwa 5.000 orang sedang mengepung Serang, sehingga satu batalion tentara dikirim lewat pelabuhan Karangantu.

Dalam penumpasan itu, mayat Ki Wasyid, Haji Tubagus Ismail, Haji Abdulgani, dan Haji Usman ditemukan. Beberapa pejuang lain seperti Haji Jafar dan Haji Arja melarikan diri ke Mekah. Total korban pemberontakan ini tercatat: 17 orang pemberontak tewas, 13 luka-luka, dan 94 diasingkan ke berbagai wilayah seperti Tondano, Gorontalo, Kupang, dan Banda.

Sejarawan Prof. Sartono Kartodirdjo melalui disertasinya The Peasants’ Revolt of Banten in 1888, menekankan bahwa perlawanan ini merupakan reaksi terhadap Pax Neerlandica dan kebijakan asimilasi budaya Belanda yang justru memicu keruntuhan tatanan tradisional. Seiring dengan laporan RRI dan berbagai narasi sejarah, Geger Cilegon menjadi simbol perjuangan rakyat Banten yang mengedepankan solidaritas keagamaan, semangat jihad, dan perlawanan terhadap dominasi asing.

Meski gagal secara militer, Geger Cilegon tetap abadi sebagai simbol perlawanan spiritual, sosial, dan politik. Mengajarkan kita bahwa sejarah bukan sekadar ingatan, melainkan landasan karakter dan semangat bangsa. Sejarah ini layak dikenang, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi muda sebagai bentuk penghargaan terhadap keberanian para pendahulu bangsa. (LSA)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos