TASIKMALAYA | Priangan.com – Akademisi Universitas Islam KH. Ruhiat Cipasung (UNIK), Rico Ibrahim menilai peristiwa tewasnya seorang pengemudi ojek online (ojol) akibat terlindas mobil taktis Brimob dalam aksi unjuk rasa, menjadi catatan kelam bagi perjalanan demokrasi di Indonesia.
Menurutnya, tragedi tersebut seakan mengingatkan kembali pada sejarah kelam bangsa di era 1998, ketika kebebasan berpendapat harus dibayar mahal dengan hilangnya nyawa maupun penculikan aktivis.
“Pagi ini kita semua dibuat terkejut, seakan diingatkan pada sejarah kelam Indonesia. Tahun 1998 banyak penculikan intelektual, dan kini suara demonstrasi digilas mobil Brimob. Kematian seorang ojol menjadi perenungan dan kesedihan masyarakat tentang mundurnya demokrasi,” kata Rico, Jumat (29/8/2025).
Rico menegaskan, peristiwa ini harus menjadi momentum bagi pemerintah, DPR, maupun institusi Polri untuk mengambil langkah cepat dan tegas. Menurutnya, tindakan aparat yang melindas warga sipil merupakan bentuk kesewenang-wenangan yang tidak bisa ditoleransi.
“Hukum dibuat untuk semua orang, termasuk bagi yang memakai seragam dinas. Tindakan tidak terpuji ini harus diusut dan diberikan sanksi berat, agar tidak terulang kembali,” tegasnya.
Ia juga menyebut, momentum ini menjadi ujian serius bagi Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Publik menunggu sikap keduanya dalam merespons tragedi yang mencederai nilai demokrasi dan kemanusiaan.
“Langkah cepat dan konkret dari Presiden dan Wakil Presiden sangat ditunggu. Jangan sampai pemerintah terkesan lamban, sementara masyarakat, termasuk komunitas ojol, tidak akan tinggal diam,” ujar Rico.
Rico bahkan menilai kecil kemungkinan DPR akan bersikap tegas terkait kasus ini, mengingat saat ini mereka lebih sibuk dengan urusan internal.
“Kalau berharap DPR bertindak rasanya sulit, karena mereka sedang menikmati kenaikan gaji. Justru kita menunggu ketegasan dari pemerintah pusat, khususnya Presiden,” ucapnya.
Ia menambahkan, peristiwa memilukan yang terjadi di tengah suasana peringatan kemerdekaan RI menjadi ironi yang menyayat hati masyarakat.
“Di bulan yang sama kita merayakan kemerdekaan, tapi juga dirundung kesedihan mendalam. Langit kelam dan hujan seakan menggambarkan Indonesia sedang gelap gulita,” pungkasnya. (yna)