PARIS | Priangan.com – Nama Simone Veil tercatat kuat dalam sejarah Prancis dan Eropa. Ia dikenang sebagai perempuan pertama yang memimpin Parlemen Eropa, tokoh politik yang berani memperjuangkan legalisasi aborsi, sekaligus penyintas Holocaust yang masa remajanya direnggut oleh kekejaman Nazi. Kehidupannya memadukan penderitaan pribadi yang mendalam dengan pencapaian publik yang luar biasa, menjadikannya simbol keberanian dan suara perempuan yang tak pernah tunduk pada tekanan zaman.
Seperti dilansir dari France24, Veil lahir pada 13 Juli 1927 di Nice dengan nama asli Simone Jacob. Ia tumbuh dalam keluarga Yahudi sekuler bersama tiga saudara kandungnya. Ayahnya, André, seorang arsitek berbakat, sementara ibunya, Yvonne, pernah menekuni studi kimia sebelum berhenti setelah menikah. Kehidupan keluarga mereka berubah drastis setelah rezim Vichy yang bersekutu dengan Nazi berkuasa pada 1940. Seperti banyak keluarga Yahudi lain, mereka dipaksa masuk ke dalam berkas Yahudi yang memudahkan aparat dan Gestapo untuk mendeportasi mereka.
Pada Maret 1944, ketika baru berusia 16 tahun, Simone ditangkap oleh tentara Nazi. Ia bersama ibunya dan saudarinya, Madeleine, dideportasi ke Auschwitz.
Dalam perjalanan tiga hari yang penuh sesak dengan kereta ternak, mereka mengalami penderitaan tak terbayangkan. Ayah dan saudara laki-lakinya dikirim ke Baltik melalui konvoi terpisah dan tidak pernah kembali.
Sedangkan di Auschwitz, Simone berhasil bertahan karena mengaku lebih tua dari usianya, sehingga dimasukkan dalam daftar pekerja paksa. Nomor 78651 ditato di lengannya, tanda yang merepresentasikan dirinya hanya dianggap sebagai angka.
Ketika kamp Auschwitz dievakuasi pada awal 1945, Simone dipaksa ikut “mars kematian” menuju Bergen-Belsen. Di sana, ibunya meninggal akibat tifus hanya sebulan sebelum kamp dibebaskan pasukan Inggris. Ia baru berusia 17 tahun ketika kembali ke Prancis dengan kehilangan besar, namun juga dengan tekad untuk melanjutkan hidup.
Setelah perang, Veil melanjutkan studi hukum di Universitas Paris dan Institut d’études politiques. Ia kemudian menikah dengan Antoine Veil pada 1946 dan dikaruniai tiga anak.
Kariernya dimulai sebagai pengacara, lalu hakim, sebelum menjabat di Kementerian Kehakiman. Di sana ia memperjuangkan hak-hak perempuan, termasuk tahanan perempuan, serta melindungi perempuan Aljazair dari kekerasan dalam perang kemerdekaan.
Puncak karier politiknya datang pada 1974, ketika ia menjabat Menteri Kesehatan. Dari jabatan itulah ia memperjuangkan legalisasi aborsi di Prancis. Dalam pidato bersejarah di hadapan Majelis Nasional, Veil menegaskan bahwa aborsi bukan pilihan ringan, melainkan tragedi yang dialami banyak perempuan. Meski menghadapi perlawanan sengit dan bahkan cercaan pribadi, undang-undang yang dikenal sebagai loi Veil akhirnya disahkan. Kini, kebijakan itu menjadi tonggak penting dalam sejarah hak perempuan Prancis.
Tak berhenti di situ, Veil melangkah ke ranah Eropa. Ia terpilih dalam pemilihan langsung pertama Parlemen Eropa pada 1979, bahkan menjadi presiden perempuan pertama lembaga tersebut. Karier panjangnya kemudian mencakup jabatan di Dewan Konstitusi Prancis serta peran penting dalam memperjuangkan integrasi Eropa.
Penghargaan demi penghargaan ia terima sepanjang hidupnya. Pada 2008, ia bergabung dengan Académie française, lembaga bergengsi yang menjaga bahasa Prancis. Pedang seremonialnya diukir dengan semboyan Republik Prancis, semboyan Uni Eropa, dan simbol lima jari yang melambangkan tato Auschwitz di lengannya.
Simone Veil meninggalkan warisan besar, yaitu keberanian menghadapi kekejaman, keteguhan memperjuangkan hak-hak perempuan, serta keyakinan bahwa masa lalu yang kelam dapat menjadi dasar bagi perubahan. Dari Auschwitz hingga Parlemen Eropa, kisah hidupnya adalah saksi bahwa penderitaan tidak selalu berakhir dengan keputusasaan, melainkan bisa melahirkan kekuatan untuk membangun dunia yang lebih adil. (LSA)