JAKARTA | Priangan.com – Ini adalah sosok Irawan Soejono. Namanya mungkin terdengar asing di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, jauh di pelataran negeri kincir angin sana, ia dikenang sebagai salah seorang pahlawan.
Lahir di Pasuruan, Jawa Timur, pada 24 Januari 1920, Irawan Soejono berasal dari keluarga priyayi Jawa yang memiliki latar belakang pemerintahan dan pendidikan. Ayahnya, Raden Adipati Ario Soejono, merupakan pejabat Hindia Belanda yang pernah duduk di Volksraad. Sejak kecil, Soejono telah bersentuhan dengan dunia pendidikan Eropa ketika mengikuti keluarganya ke Belanda. Lingkungan ini membentuk pandangan hidupnya sejak dini, terutama mengenai politik, kolonialisme, dan kebebasan.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Soejono melanjutkan studi ke Universitas Leiden dan memilih bidang sosiologi. Di kota akademik tersebut, ia aktif dalam Perhimpunan Indonesia, organisasi mahasiswa yang menjadi wadah diskusi dan perlawanan intelektual terhadap kolonialisme. Masa studinya bertepatan dengan pecahnya Perang Dunia Kedua dan pendudukan Jerman atas Belanda pada Mei 1940. Situasi ini mengubah arah hidupnya dari seorang mahasiswa menjadi bagian dari gerakan perlawanan bawah tanah.
Di bawah pendudukan Nazi, Soejono memilih bergabung dengan kelompok perlawanan Belanda. Ia terlibat dalam kegiatan penyebaran informasi rahasia melalui penerbitan surat kabar bawah tanah De Bevrijding. Dalam aktivitas ini, ia menggunakan nama samaran untuk menghindari penangkapan. Tugasnya mencakup penggandaan dan distribusi selebaran, menjaga jaringan komunikasi, serta membantu mengamankan peralatan cetak. Aktivitas tersebut dijalankan dengan risiko tinggi di tengah pengawasan ketat aparat pendudukan.
Peran Soejono dalam perlawanan berakhir tragis pada 13 Januari 1945. Saat itu, ia tengah mengayuh sepeda di Leiden sambil membawa bagian mesin stensil yang akan digunakan untuk mencetak koran bawah tanah. Di kawasan Breestraat, ia berhadapan dengan patroli tentara Jerman. Upayanya meloloskan diri gagal. Tembakan tentara Wehrmacht merenggut nyawanya. Soejono gugur pada usia 24 tahun, hanya beberapa bulan sebelum Belanda dibebaskan dari pendudukan Nazi.
Jenazah Irawan Soejono sempat dimakamkan di Leiden sebelum kemudian dikremasi setelah perang usai. Pengorbanannya tidak hilang dari ingatan masyarakat Belanda. Pemerintah dan warga Belanda lanrtas mengakui kontribusinya sebagai bagian dari perlawanan nasional. Pada 1990, namanya diabadikan sebagai nama jalan di Amsterdam untuk sebuah penghormatan. Bahkan, ia juga diakui sebagai seorang pahlawan. (wrd)
















