TASIKMALAYA | Priangan.com – Maraknya bangunan yang berdiri di kawasan sempadan sungai masih menjadi persoalan serius di Kota Tasikmalaya. Di sejumlah titik, bangunan permanen dan semi permanen terlihat berdiri tepat di bantaran sungai, terutama di wilayah permukiman padat penduduk. Kondisi ini dinilai mengganggu fungsi sungai sekaligus meningkatkan risiko banjir saat musim hujan.
Pantauan Priangan.com di lapangan menunjukkan, banyak bangunan berdiri sangat dekat dengan bibir sungai dan dimanfaatkan sebagai rumah tinggal, kios usaha, hingga tempat penyimpanan barang. Keberadaan bangunan tersebut membuat aliran sungai menyempit dan menyulitkan petugas saat melakukan pembersihan maupun normalisasi sungai.
Kondisi tersebut menimbulkan keresahan di kalangan warga sekitar. Asep (45), warga yang tinggal tak jauh dari aliran sungai, mengaku kini lebih waswas setiap kali hujan turun, meski hanya sebentar.
“Sekarang hujan sebentar saja air langsung naik. Sungainya makin sempit karena banyak bangunan di pinggirnya,” ujarnya kepada Priangan.com, Kamis (5/2/2026).
Keluhan serupa juga disampaikan Siti (38). Menurutnya, genangan air kerap muncul ketika hujan berlangsung cukup lama, terutama pada malam hari.
“Kalau hujan lama, air suka naik sampai ke jalan. Apalagi malam hari, kami takut kalau tiba-tiba banjir masuk ke rumah,” kata Siti.
Meski begitu, sebagian warga juga memahami kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang terpaksa membangun di bantaran sungai. Dedi (50) menilai, banyak bangunan tersebut sudah berdiri sejak lama dan menjadi satu-satunya tempat tinggal pemiliknya.
“Kalau memang mau ditertibkan, harus ada solusi yang jelas. Jangan cuma digusur, tapi pikirkan juga ke mana warganya harus tinggal,” ujarnya.
Warga menilai lemahnya pengawasan menjadi salah satu penyebab maraknya bangunan di sempadan sungai. Mereka mempertanyakan bagaimana bangunan-bangunan tersebut bisa berdiri dan bertahan selama bertahun-tahun tanpa penertiban yang tegas.
Masyarakat berharap Pemerintah Kota Tasikmalaya segera mengambil langkah konkret dan humanis, mulai dari pendataan bangunan di bantaran sungai, sosialisasi aturan sempadan sungai, hingga penataan kawasan sungai secara menyeluruh. Langkah tersebut dinilai mendesak untuk mengurangi risiko banjir sekaligus menjaga keselamatan warga serta kelestarian lingkungan di Kota Tasikmalaya. (ags)

















