“War Takjil” di Kota Tasikmalaya Jadi Simbol Toleransi, Mahasiswa Lintas Agama Turut Ramaikan Ramadan

TASIKMALAYA | Priangan.com – Suasana jelang berbuka puasa di Kota Tasikmalaya tak hanya soal antrean panjang kolak dan gorengan. Di balik ramainya pusat jajanan Ramadan, terselip pemandangan yang menghangatkan: anak-anak muda lintas agama ikut larut dalam euforia “war takjil”.

Fenomena ini terlihat di sejumlah titik keramaian seperti kawasan Dadaha, sekitar Unsil, hingga depan BTH. Sejak sore hari, lapak pedagang dipadati pembeli yang berburu aneka takjil, mulai dari kolak pisang, gorengan, es buah hingga minuman segar.

Menariknya, di antara kerumunan itu tampak mahasiswa non-Muslim yang sengaja ikut berburu takjil bersama teman-teman Muslim mereka. Bagi sebagian anak muda, momen ini bukan sekadar soal makanan, melainkan kebersamaan.

Seorang mahasiswa, Saddam Ilham (24), mengaku tradisi mengajak teman non-Muslim sudah ia lakukan setiap tahun.

“Tiap tahun saya ajak mereka buat cari takjil. Bahkan kadang jajanan mereka lebih banyak dari kita yang Muslim,” ujarnya sambil tertawa, Senin (23/2/2026).

Menurut Saddam, Ramadan justru menjadi ruang pertemuan yang cair bagi pertemanan lintas keyakinan. Tidak ada sekat, yang ada hanya canda dan antrean panjang di depan lapak jajanan.

Hal senada diungkapkan Hizkia (22), mahasiswa Unsil yang beragama non-Muslim. Ia mengaku selalu antusias saat diajak ikut “war takjil”.

“Seru saja. Walaupun saya nggak puasa, tapi suasana Ramadan itu terasa hangat. Kebersamaannya yang bikin beda,” kata Hizkia.

Ia bahkan kerap ikut menunggu waktu berbuka bersama teman-temannya.

“Kita saling menghargai. Mereka puasa, saya ikut nunggu sampai buka. Kadang sekalian nongkrong bareng. Nggak ada rasa canggung,” tambahnya.

Bagi Fikri (24), mahasiswa lainnya, kehadiran teman-teman non-Muslim dalam suasana Ramadan justru memperlihatkan wajah toleransi yang nyata di Kota Tasikmalaya.

Lihat Juga :  Krisis Lahan, Pemdes Pakalongan Tasikmalaya Alihfungsikan Eks SD Palasari Jadi Kantor KDMP

“Justru ini bentuk toleransi. Kita nggak lihat perbedaan. Ramadan jadi momen mempererat persaudaraan,” tegasnya.

Lihat Juga :  Proses Rekomendasi Nikah Dinilai Berbelit, Warga Keluhkan Pelayanan KUA Tawang

Tak hanya mahasiswa, para pedagang takjil pun merasakan dampak positif dari ramainya pembeli lintas kalangan. Lina (45), penjual kolak pisang di kawasan Dadaha, mengaku setiap Ramadan pembelinya memang beragam.

“Alhamdulillah semua beli, nggak lihat agama. Yang penting dagangan laris dan suasana rukun,” tuturnya.

Fenomena non-Muslim ikut “war takjil” ini menjadi potret harmonis kehidupan sosial di Kota Tasikmalaya. Di tengah perbedaan keyakinan, tradisi sederhana berburu takjil justru menjadi jembatan toleransi, memperkuat persaudaraan, dan menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang kebersamaan. (ham)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos