Wajah Kusam “Kota Resik”, Anak Jalanan Menjamur, Pemkot Tasikmalaya Dinilai Terlalu Sibuk Seremonial

TASIKMALAYA | Priangan.com – Ironi mencolok tersaji di jantung Tasikmalaya. Di balik slogan “Kota Resik” yang kerap digaungkan, deretan pengemis, badut jalanan, hingga pengamen cilik justru kian menjamur di hampir setiap lampu merah dan ruas jalan protokol.

Di persimpangan jalan, anak-anak di bawah umur dengan pakaian lusuh dan wajah lelah tampak mengais receh dari pengendara. Sebagian membawa gitar kecil, sebagian lain mengenakan kostum badut demi menarik iba. Fenomena ini bukan lagi kasus sporadis, melainkan potret sosial yang kian masif dan sulit diabaikan.

Kondisi tersebut memicu kritik keras terhadap kinerja Pemerintah Kota Tasikmalaya, khususnya dinas terkait yang bertanggung jawab pada urusan sosial dan perlindungan anak. Publik mempertanyakan sejauh mana langkah konkret pemerintah dalam menyentuh akar persoalan kemiskinan yang memaksa anak-anak turun ke jalan.

Aktivis Tasikmalaya, Ijtihad, menilai pemerintah seolah menutup mata terhadap persoalan mendasar ini. Ia menyebut anggaran daerah lebih banyak terserap untuk kegiatan yang bersifat simbolik dibandingkan menyentuh kebutuhan riil masyarakat kecil.

“Betapa dzolimnya pemerintah ketika anggaran APBD digunakan untuk hal-hal yang sifatnya tidak penting (ceremony), padahal di sisi lain banyak masyarakat yang dimiskinkan oleh sistem dan tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar,” tegas Ijtihad kepada Priangan.com, Sabtu (28/2/2026).

Menurutnya, menjamurnya anak jalanan hingga munculnya kecenderungan sebagian dari mereka enggan menempuh pendidikan formal merupakan sinyal kegagalan sistemik. Negara, kata dia, belum benar-benar hadir untuk menciptakan lingkungan yang layak bagi tumbuh kembang anak-anak dari keluarga prasejahtera.

Ia menekankan, anak-anak jalanan bukan sekadar objek penertiban musiman, melainkan aset masa depan kota yang harus dilindungi dan diberdayakan.

“Pemerintah seharusnya memelihara, mengakomodir dan menghadirkan sistem untuk saudara-saudara kita yang notabenenya miskin atau bisa dikatakan orang jalanan agar mereka dapat berkembang baik dari segi pemikiran maupun dari segi ekonomi layaknya manusia pada umumnya,” tambahnya.

Lihat Juga :  Mahasiswa Desak Pemkot Tertibkan SPPG Tanpa IPAL di Kota Tasikmalaya

Hingga kini, fenomena anak jalanan masih menjadi potret buram di tengah geliat pembangunan dan seremoni yang kerap menghiasi ruang publik Kota Tasikmalaya. (ham)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos