Vinegar Valentine: Dulu, Hari Kasih Sayang Jadi Ajang Kirim Hinaan

JAKARTA | Priangan.com – Hadirnya Hari Valentine kerap identik dengan hari kasih sayang yang penuh harmoni dan suasana romantis. Pada momen inilah orang-orang meluangkan waktu bersama yang terkasih dan saling bertukar hadiah sebagai tanda cinta, mulai dari bunga, cokelat, hingga secarik surat dengan rajutan kata-kata manis. Namun, pada masa lampau, Hari Valentine sejatinya tidak hanya menjadi ajang pengutaraan kasih sayang, melainkan juga sarana melontarkan hinaan dan ejekan.

Pada akhir abad ke-19, khususnya di Amerika dan Eropa, perayaan Hari Valentine bukan semata tentang cinta. Selain kartu berhias hati dan bunga, beredar pula kartu berisi karikatur serta sajak satir yang bertujuan mengejek dan merendahkan penerimanya. Kartu semacam ini dikenal sebagai Vinegar Valentine.

Dalam tulisan di laman Amusing Planet berjudul “Vinegar Valentines: The Victorian Tradition of Sending Anonymous Hate Mail”, disebutkan bahwa tradisi ini diperkirakan mulai berkembang di Amerika sekitar tahun 1840-an dan bertahan hampir satu abad. Bahkan, dalam kurun tertentu, kartu berisi hinaan ini diperkirakan menyumbang hampir setengah dari total penjualan kartu Valentine di Amerika Serikat.

Kartu-kartu tersebut diproduksi secara massal di atas kertas murah dan dijual dengan harga terjangkau, yakni sekitar satu sen per lembar. Harga yang rendah membuatnya dapat dibeli oleh berbagai kalangan, tanpa memandang kelas ekonomi. Orang kaya maupun miskin, tua maupun muda, memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan sindiran atau kebencian secara anonim. Kartu ini dipertukarkan di antara tetangga, musuh, teman, bahkan dikirimkan perempuan kepada pelamar yang tidak diinginkan, murid kepada guru yang dibenci, atau pekerja kepada atasan yang menjengkelkan.

Pada masa awal peredarannya, kartu ini hanya berupa selembar kertas yang dilipat dan disegel dengan sedikit lilin. Saat itu, memasukkan surat ke dalam amplop memerlukan biaya tambahan sehingga jarang dilakukan. Bahkan sebelum adanya prangko prabayar, penerima suratlah yang harus menanggung ongkos kirim. Artinya, seseorang yang menerima kartu Vinegar Valentine tidak hanya mendapatkan penghinaan, tetapi juga harus membayar untuk menerimanya—sebuah bentuk penghinaan ganda.

Lihat Juga :  Di Balik Kekejamannya, Joseph Stalin Ternyata Punya Banyak Fobia

Meski kerap dianggap sekadar lelucon, kartu-kartu ini menuai kritik tajam. Bahkan menurut standar era Victoria, isinya dinilai tidak pantas dan merusak moral. Surat kabar pada masa itu menyalahkan produsen kartu karena dianggap memicu perilaku tidak bermoral dan mendorong kebiasaan mencaci. New York Times pada tahun 1866, misalnya, menyoroti kecenderungan tersebut sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan.

Lihat Juga :  Ketika Radio Bicara dalam Kode: Kisah Nyata Dunia Spionase

Dalam sejumlah kasus, dampaknya tidak berhenti pada ejekan semata. Beberapa penerima dilaporkan bunuh diri setelah menerima kartu penghinaan. Pada 1885, seperti dilaporkan Pall Mall Gazette di London, seorang suami menembak istrinya yang telah berpisah dengannya setelah mengetahui bahwa kartu Vinegar Valentine yang diterimanya berasal dari sang istri.

Memasuki tahun 1940-an, popularitas kartu ini mulai meredup. Secara umum, tradisi bertukar kartu Valentine pun mengalami penurunan. Ada yang berpendapat bahwa kekasaran yang dianggap menggelikan itulah yang akhirnya menggerus tradisi tersebut. Namun, ada pula yang meyakini bahwa kebiasaan ini menghilang secara alami seiring perubahan selera dan norma masyarakat. (LSA)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos