WASHINGTON | Priangan.com – Pada 2 Maret 2026 Presiden Amerika Serikat Donald Trump menepis hasil sejumlah survei opini publik yang menunjukkan mayoritas warga Amerika tidak mendukung keputusannya dalam melakukan serangan terhadap Iran.
Survei yang dirilis CNN menunjukan sekitar 60% warga AS menolak serangan AS-Israel terhadap Iran. Sementara itu, survei Reuters mencatat hanya sekitar seperempat responden yang menyatakan setuju dengan langkah militer tersebut.
Menanggapi hasil tersebut, Trump mengatakan tidak terpengaruh oleh angka-angka survei. “Apakah jajak pendapatnya rendah atau tidak, mungkin saja bagus. Tapi ini bukan soal jajak pendapat. Anda tidak bisa membiarkan Iran, yang dipimpin orang-orang gila, memiliki senjata nuklir,” ujarnya. Ia juga mengklaim bahwa “jajak pendapat yang sebenarnya” alkan menunjukan dukungan publik terhadap tindakannya.
Trump menyebut operasi militer yang dinamai Operasi Epic Fury sebagai langkah yang diperlukan untuk melumpuhkan program nuklir Iran. Ia juga secara terbuka menyerukan agar rakyat Iran menggulingkan pemerintah mereka, pernyataan yang memicu kontroversi tambahan di dalam negeri maupun internasional.
Namun, kritik deras datang dari kubu Demokrat dań sebagiaun anggota Partai Republik. Pemimpin Demokrat di DPR, Hakeem Jeffries, menyebutkan bahwa Trump memicu “parang tak berujung lainnya di Timur Tengah.” Sementara itu, anggota Kongres Republik Thomas Massie dari Kentucky menklai langkah tersebut bertentangan dengan slogan kampanye Trump, “America First”.
Pada wawancaranya di New York Post, Trump menegaskan bahwa “Saya pikir jajak pendapatnya sangat baik, tapi saya tidak peduli dengan jajak pendapat. Saya harus melakukan hal yang benar. Ini seharusnya sudah dilakukan sejak lama,” katanya. Pernyataan tersebut mempertegas bahwa Gedung Putin akan teteap melanjutkan kebikjakan militernya walaupun terdapat penolakan yang signifikan. (Zia)

















