JAKARTA | Priangan.com – Saat ini, pohon Natal hadir hampir di mana-mana ketika perayaan Natal tiba. Ia tidak hanya berdiri di ruang keluarga, tetapi juga menghiasi pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, hotel, gereja, alun-alun kota, hingga ruang publik di berbagai belahan dunia. Pohon Natal telah menjadi ornamen wajib yang menandai datangnya musim perayaan, melampaui batas negara, budaya, dan bahkan konteks keagamaan.
Namun, penerimaan global terhadap pohon Natal merupakan hasil dari proses sejarah yang panjang. Pada pertengahan abad ke-19, tradisi ini belum menjadi pemandangan umum, bahkan di Inggris dan Amerika Serikat. Saat itu, pohon Natal masih dianggap asing dan hanya dikenal dalam lingkup budaya tertentu.
Dilansir dari Findmypast, perjalanannya menuju simbol perayaan yang bersifat universal tidak terjadi secara alami. Tradisi ini terbentuk melalui pertemuan antara kebiasaan masyarakat Jerman, pengaruh keluarga kerajaan Inggris, serta peran besar media cetak dalam menyebarkan gambaran ideal tentang perayaan Natal.
Akar tradisi pohon Natal berasal dari wilayah-wilayah Protestan di Jerman. Di sana, menghias pohon cemara pada masa Natal telah menjadi kebiasaan keluarga sejak berabad-abad lalu. Praktik ini berkembang sebagai tradisi domestik dan kultural, bukan sebagai ritual keagamaan resmi.
Salah satu kisah yang kerap dikaitkan dengan tradisi ini adalah cerita tentang Martin Luther pada abad ke-16. Dalam narasi populer, Luther disebut sebagai tokoh awal yang menghias pohon cemara dengan lilin. Meski kisah ini terus diwariskan dalam tradisi Protestan Jerman, tidak ditemukan bukti tertulis yang kuat untuk mendukungnya. Karena itu, sebagian besar sejarawan menilai bahwa Luther lebih berperan sebagai figur simbolik dalam konteks budaya, bukan sebagai tokoh utama yang memperluas tradisi menghias pohon Natal.
Tradisi ini kemudian berpindah lintas wilayah melalui hubungan keluarga kerajaan Inggris. Pangeran Albert, suami Ratu Victoria, berasal dari Sachsen-Coburg-Gotha di Jerman, wilayah yang pada awal abad ke-19 telah mengenal tradisi pohon Natal. Latar budaya inilah yang membuat Albert akrab dengan praktik menghias pohon cemara sebagai bagian dari perayaan Natal.
Setelah menikah dan menetap di Inggris, Albert membawa kebiasaan tersebut ke lingkungan istana. Victoria sendiri tidak sepenuhnya asing dengan tradisi ini, mengingat leluhurnya yang berdarah Jerman telah mengenalkan pohon Natal di kalangan keluarga kerajaan sejak awal abad ke-19. Meski demikian, selama bertahun-tahun, praktik ini tetap terbatas di lingkungan istana dan belum menyebar luas ke masyarakat.
Perubahan besar terjadi ketika kehidupan keluarga kerajaan mulai dipublikasikan. Pada tahun 1848, sebuah ilustrasi yang menampilkan Ratu Victoria, Pangeran Albert, dan anak-anak mereka berkumpul di sekitar pohon Natal diterbitkan di Inggris.
Beberapa tahun kemudian, gambar tersebut dimuat ulang di Amerika Serikat melalui Godey’s Lady’s Book, majalah wanita paling berpengaruh pada masanya. Versi Amerika dari ilustrasi ini mengalami penyesuaian visual agar sesuai dengan selera pembaca, meskipun identitas keluarga kerajaan tetap mudah dikenali.
Melalui media cetak inilah pohon Natal memperoleh makna baru. Tradisi yang sebelumnya bersifat lokal kini tampil sebagai simbol kehidupan keluarga ideal yang hangat, tertib, dan penuh kebersamaan. Figur keluarga kerajaan memberikan legitimasi sosial, sementara jangkauan majalah memungkinkan tradisi ini dikenal luas. Dalam waktu singkat, pohon Natal tidak lagi dipandang sebagai kebiasaan komunitas Jerman, melainkan sebagai bagian dari perayaan modern.
Sejarawan budaya mencatat bahwa tidak ada media yang berperan lebih besar dalam mempopulerkan pohon Natal di Amerika Serikat pada dekade 1850–1860 selain Godey’s Lady’s Book.
Meski demikian, penerimaan ini tidak terjadi tanpa perlawanan. Di Amerika, sejumlah kelompok Puritan memandang pohon Natal dengan kecurigaan. Mereka menganggapnya tidak sesuai dengan nilai keagamaan dan bahkan menyebutnya sebagai praktik yang tidak suci. Penolakan ini mencerminkan sikap terhadap tradisi yang dianggap berasal dari luar dan tidak memiliki dasar teologis yang jelas. Namun, seiring menguatnya budaya populer dan pengaruh media, pandangan tersebut perlahan meredup.
Seiring meluasnya tradisi, cara menghias pohon Natal pun mengalami perkembangan. Pada awalnya, pohon dihiasi dengan benda-benda sederhana seperti lilin, buah-buahan, kacang-kacangan, dan kue. Banyak keluarga membuat hiasan sendiri dari kertas atau bahan lain yang mudah ditemukan.
Memasuki akhir abad ke-19, inovasi teknologi membawa perubahan signifikan. Lampu listrik mulai digunakan untuk menggantikan lilin, sementara ornamen kaca dari Jerman diimpor secara massal ke Amerika, membuat dekorasi pohon Natal semakin beragam dan mudah diakses.
Jenis pohon yang digunakan umumnya berasal dari kelompok konifer hijau abadi, seperti cemara dan pinus. Pada abad ke-21, pohon Natal buatan semakin banyak digunakan sebagai alternatif. Menariknya, pohon buatan pertama yang dikembangkan di Jerman pada awal abad ke-19 tidak terbuat dari plastik, melainkan dari bulu angsa yang dicat hijau. Inovasi ini muncul sebagai respons terhadap kekhawatiran akan penggundulan hutan, jauh sebelum isu lingkungan menjadi perhatian global.
Meskipun kerap dikaitkan dengan hari raya Natal sebagai perayaan Kristen, pohon Natal pada dasarnya merupakan tradisi budaya yang bersifat sekuler. Tradisi ini tidak diperkenalkan oleh lembaga keagamaan tertentu, melainkan tumbuh melalui perpindahan budaya, relasi sosial, dan pengaruh media. Di Amerika, bentuk awal pohon Natal bahkan sangat beragam, termasuk piramida kayu berhias lilin yang digunakan oleh komunitas Moravia di Pennsylvania.
Pada akhirnya, pohon Natal menjadi contoh bagaimana sebuah kebiasaan lokal dapat berkembang menjadi simbol global. Dari tradisi keluarga di Jerman, masuk ke lingkungan istana Inggris, lalu menyebar luas melalui media cetak, pohon Natal menunjukkan bahwa tradisi tidak bersifat statis. Ia terus dibentuk oleh sejarah, kekuasaan simbolik, serta selera masyarakat pada zamannya. (LSA)

















