JAKARTA | Priangan.com – Tidur sering kali dianggap sebagai aktivitas paling pasif dalam kehidupan sehari-hari. Ia hadir sebagai jeda dari rutinitas, cara tubuh memulihkan diri setelah hari yang melelahkan. Namun kini, para peneliti menemukan bahwa tidur justru menyimpan informasi penting tentang kondisi tubuh, bahkan tentang risiko penyakit yang mungkin baru muncul bertahun-tahun kemudian. Melalui teknologi berbasis akal imitasi (AI), pola tidur manusia mulai dibaca sebagai sinyal awal kesehatan jangka panjang.
Salah satu teknologi yang menjadi sorotan adalah SleepFM, sebuah model yang dikembangkan oleh tim peneliti di Amerika Serikat. Sebagaimana dilansir oleh Deutsche Welle (DW), model ini menunjukkan bahwa hanya dengan satu malam tidur di laboratorium, risiko seseorang terhadap sekitar 130 penyakit dapat diperkirakan. Penyakit tersebut mencakup gangguan neurodegeneratif seperti demensia dan Parkinson, penyakit jantung, hingga kanker prostat dan payudara.
Temuan ini menggeser cara pandang lama tentang tidur, dari sekadar kebutuhan biologis menjadi indikator kesehatan yang bernilai strategis.
SleepFM bekerja dengan membaca berbagai sinyal tubuh yang muncul secara alami saat seseorang tertidur. Proses ini dilakukan melalui pemeriksaan yang disebut polisomnografi, yakni metode yang merekam aktivitas listrik otak, denyut dan irama jantung, pernapasan, ketegangan otot, serta gerakan mata dan kaki sepanjang malam. Sinyal-sinyal tersebut kemudian dianalisis untuk mengenali pola tertentu yang sebelumnya sulit ditangkap secara manual.
Dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal Nature Medicine, James Zou, profesor ilmu data biomedis dari Stanford University, menjelaskan bahwa SleepFM dilatih menggunakan hampir 600.000 jam data tidur yang dikumpulkan dari sekitar 65.000 orang. Data tersebut kemudian dihubungkan dengan rekam medis hingga 25 tahun terakhir.
Melalui pendekatan ini, model mampu mempelajari bagaimana variasi kecil dalam pola tidur berkaitan dengan diagnosis penyakit yang muncul jauh di kemudian hari. Dari sekitar 1.000 kemungkinan penyakit yang dianalisis, sekitar 130 di antaranya menunjukkan tingkat prediksi menengah hingga tinggi.
Analisis lebih mendalam memperlihatkan bahwa setiap sinyal tubuh memberikan petunjuk yang berbeda. Aktivitas jantung selama tidur lebih relevan untuk memprediksi penyakit kardiovaskular, sementara gelombang otak berkaitan erat dengan gangguan neurologis dan psikologis.
Namun, hasil paling informatif justru muncul ketika seluruh sinyal dibaca secara bersamaan. Ketika otak tampak berada dalam kondisi tidur stabil, tetapi jantung menunjukkan tanda-tanda kewaspadaan, kondisi ini diduga mencerminkan stres fisik tersembunyi yang berkaitan dengan penyakit pada tahap sangat awal.
Meski menawarkan potensi besar, para peneliti menegaskan bahwa teknologi ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran manusia. SleepFM bekerja berdasarkan korelasi data, bukan hubungan sebab-akibat. Artinya, model ini tidak dapat menjelaskan mengapa suatu penyakit terjadi, melainkan hanya menunjukkan bahwa pola tertentu sering diikuti oleh diagnosis tertentu di masa depan. Karena itu, hasil analisis tetap memerlukan penafsiran dan pertimbangan klinis dari tenaga medis.
Di sinilah pentingnya kolaborasi lintas disiplin. Sebastian Buschjäger, peneliti pembelajaran mesin dari Jerman, dalam wawancara email dengan DW, menekankan bahwa teknologi semacam ini paling efektif ketika bekerja berdampingan dengan keahlian medis. Sistem berbasis kecerdasan buatan dapat membantu dalam perencanaan terapi, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan dokter. Tenaga medis berperan menafsirkan hasil analisis, memahami kondisi pasien secara menyeluruh, dan menentukan langkah perawatan, bahkan ketika tidak semua proses biologis yang mendasari penyakit dapat dijelaskan secara pasti.
Di tengah keterbatasannya, SleepFM tetap menawarkan arah baru dalam pendekatan kesehatan preventif. Dengan analisis tidur yang lebih efisien, tenaga medis berpeluang mengalihkan fokus dari sekadar penanganan penyakit menuju pencegahan dini. Tidur, yang selama ini kerap dikorbankan demi tuntutan gaya hidup modern, justru menyimpan sinyal-sinyal halus tentang kondisi tubuh yang paling jujur.
Pada akhirnya, temuan ini mengajak kita untuk kembali memaknai tidur. Cara kita tidur malam ini mungkin tidak hanya menentukan seberapa segar kita bangun esok hari, tetapi juga memberi petunjuk tentang kesehatan kita di masa depan. (LSA)

















