TASIKMALAYA | Priangan.com – Mojang Jajaka Kota Tasikmalaya angkatan 2025 menegaskan eksistensinya bukan sekadar ajang pageant berbasis penampilan, melainkan representasi duta daerah yang membawa fungsi advokasi, aspirasi masyarakat, serta promosi potensi lokal. Penegasan ini disampaikan untuk meluruskan persepsi publik yang masih menganggap ajang tersebut hanya kontes kecantikan.
Perwakilan MoKa 2025, Ahmad Gading, menuturkan bahwa selama sekitar dua dekade lebih keberadaan Mojang Jajaka, pemahaman masyarakat tentang peran duta daerah belum sepenuhnya terbentuk.
“Masih banyak yang melihat Mojang Jajaka sebatas pageant. Padahal kami membawa misi budaya, promosi daerah, dan advokasi sosial. Penampilan memang penting, tetapi kapasitas intelektual dan kepedulian sosial jauh lebih utama,” ujar Gading kepada Priangan.com, Jumat (13/2/2026).
Ia menegaskan para finalis tidak hanya dinilai dari sisi estetika, tetapi juga wawasan, kemampuan komunikasi, serta kontribusi nyata kepada masyarakat. Karena itu, MoKa 2025 kini berupaya menguatkan kembali peran agar lebih dirasakan publik.
“Tujuan kami jelas, menjadi jembatan antara masyarakat, komunitas, dan pemerintah daerah. Kami ingin hadir bukan hanya saat seremoni, tetapi juga dalam kegiatan sosial dan edukasi,” katanya.
Berbagai kegiatan telah dilakukan untuk mendekatkan MoKa dengan masyarakat, mulai dari diskusi publik, aksi lingkungan seperti plogging, hingga program edukasi sosial. Langkah ini diharapkan mampu membangun citra duta daerah yang aktif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Selain itu, MoKa juga mendorong kolaborasi dengan sektor pariwisata dan industri kreatif. Program edukasi, promosi potensi lokal, serta peningkatan kapasitas generasi muda menjadi fokus utama untuk memperkuat peran duta budaya dan pariwisata di Tasikmalaya.
“Harapannya, Mojang Jajaka bisa benar-benar menjadi representasi generasi muda Tasikmalaya yang berbudaya, berintelektual, dan memiliki kepedulian sosial tinggi,” tambah Ahmad.
Dengan penguatan peran tersebut, MoKa 2025 berharap persepsi publik berubah, dari sekadar ajang pageant menjadi wadah strategis promosi daerah sekaligus penggerak partisipasi generasi muda dalam pembangunan lokal. (ags)

















