Sekilas Tentang Imago Mundi, Peta Dunia Peninggalan Babilonia

JAKARTA | Priangan.com – Tablet tanah liat berukuran relatif kecil ini menyimpan gambaran besar tentang cara manusia purba memahami dunia. Artefak itu dikenal sebagai Imago Mundi atau Babylonian Map of the World, salah satu peta dunia tertua yang pernah ditemukan. Dibuat pada masa Babilonia Baru sekitar abad ke-6 sebelum Masehi, tablet ini kini menjadi koleksi penting British Museum di London dan ditulis dengan aksara paku dalam bahasa Akkadia.

Berbeda dengan peta modern yang menekankan presisi geografis, Imago Mundi menyajikan dunia dalam bentuk lingkaran simbolik. Babilonia ditempatkan tepat di pusat, menegaskan posisinya sebagai poros peradaban menurut pandangan orang Babilonia. Sungai Eufrat digambarkan membelah wilayah utama, mencerminkan perannya sebagai sumber kehidupan ekonomi dan budaya Mesopotamia.

Di sekeliling daratan utama, peta ini memperlihatkan lingkaran besar yang disebut Sungai Pahit atau laut asin. Elemen ini diyakini sebagai batas kosmik yang mengelilingi seluruh dunia yang dikenal. Di dalam lingkaran tersebut tercantum nama-nama wilayah seperti Assyria, Elam, Urartu, serta beberapa kota penting lain. Penempatan kawasan ini bersifat konseptual, bukan upaya pemetaan berdasarkan jarak atau arah yang akurat.

Tablet ini tidak hanya berisi ilustrasi. Bagian atas dan belakangnya memuat teks cuneiform yang memberi konteks kosmologis atas gambar peta. Di dalamnya tercantum narasi tentang dunia, daftar tempat, dan rujukan tokoh-tokoh legendaris, termasuk Utnapishtim, figur dalam Epik Gilgamesh yang dikenal sebagai penyintas banjir besar. Pada sisi belakang juga terdapat uraian mengenai delapan wilayah jauh yang disebut nagû, daerah-daerah di luar batas dunia yang dikenal dan digambarkan memiliki sifat ekstrem serta sarat unsur mitologis.

Dalam perkembangannya, Imago Mundi kerap dikaitkan dengan berbagai spekulasi modern. Salah satunya adalah klaim bahwa tablet ini menyimpan petunjuk menuju lokasi Bahtera Nabi Nuh. Dugaan tersebut merujuk pada penyebutan Urartu yang dianggap berkaitan dengan Ararat, serta narasi perjalanan sejauh tujuh liga menuju objek besar menyerupai kapal. Beberapa istilah langka dalam teks, seperti parsiktu, juga sering ditarik ke dalam penafsiran ini.

Lihat Juga :  Sejarah Hari ini; Sepuluh Pemimpin Nazi di Nuremberg Dieksekusi Mati

Namun, kalangan akademik menilai klaim tersebut tidak berdasar. Kajian arkeologi dan filologi, termasuk penelitian yang dimuat dalam jurnal ilmiah IRAQ dan ditulis oleh ahli seperti Wayne Horowitz, menegaskan bahwa Imago Mundi harus dibaca sebagai gambaran kosmologi Babilonia. Tablet ini tidak dimaksudkan sebagai peta geografis literal, apalagi sebagai panduan menuju lokasi historis tertentu. Hingga kini, tidak ada bukti arkeologis yang mendukung keterkaitan langsung Imago Mundi dengan keberadaan Bahtera Nabi Nuh. (wrd)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos