Second Great Fire of London, Serangan Udara Jerman yang Meluluhlantakkan Jantung Ibu Kota Inggris

LONDON | Priangan.com – Kota London pernah mengalami salah satu malam paling merusak dalam sejarah Perang Dunia Kedua. Itu terjadi ketika serangan udara Jerman menghantam pusat kota teoat pada 29 Desember 1940.

Serangan itu kemudian dikenal sebagai Second Great Fire of London, hal ini merujuk pada luasnya kebakaran yang timbul dan dampaknya terhadap kawasan bersejarah City of London. Peristiwa tersebut terjadi di tengah kampanye pengeboman Jerman yang dikenal sebagai Blitz, yang sejak September 1940 menempatkan ibu kota Inggris sebagai target utama serangan udara.

Pada malam itu, pesawat-pesawat pengebom Luftwaffe memasuki wilayah udara London menjelang malam dan mulai menjatuhkan kombinasi bom insendiari serta bom berdaya ledak tinggi. Sasaran utama berada di City of London, kawasan yang menjadi pusat keuangan, perdagangan, dan administrasi sejak berabad-abad sebelumnya.

Ratusan pesawat terlibat dalam serangan tersebut, dengan puluhan ribu bom dijatuhkan dalam beberapa jam. Bom-bom insendiari memicu ribuan titik api yang dengan cepat menyebar di antara bangunan-bangunan padat dan gudang-gudang tua.

Kebakaran berkembang dengan cepat akibat angin musim dingin dan kerusakan parah pada jaringan air kota. Banyak pipa utama pecah akibat ledakan, sementara permukaan air Sungai Thames yang sedang surut menyulitkan pengambilan air dalam jumlah besar.

Petugas pemadam kebakaran, dibantu relawan dan satuan pertahanan sipil, berupaya menahan penyebaran api di tengah hujan bom yang masih berlangsung. Upaya pemadaman dilakukan sepanjang malam dengan memompa air dari sungai dan memprioritaskan bangunan-bangunan penting yang terancam.

Dampak serangan paling terasa di kawasan penerbitan dan perdagangan. Sejumlah besar bangunan hancur atau rusak berat, termasuk gereja-gereja bersejarah rancangan Christopher Wren dan deretan gudang di sekitar Paternoster Row. Jutaan buku dan arsip musnah dalam kebakaran yang melanda pusat industri penerbitan tersebut. Di tengah kerusakan itu, Katedral St Paul berhasil dipertahankan setelah upaya intensif petugas pemadam dan relawan mencegah api menjalar ke bangunan utama.

Lihat Juga :  Sebelum Podcast dan Radio, Dunia Mendengar Berita Lewat Telepon

Serangan 29 Desember 1940 menewaskan ratusan warga sipil dan melukai banyak lainnya, menambah panjang daftar korban Blitz. Pemerintah Jerman berharap tekanan udara yang terus-menerus dapat melemahkan kemampuan bertahan Inggris dan memukul semangat penduduk sipil.

Lihat Juga :  Panjandrum: Proyek Militer Absurd yang Gagal Total

Kenyataannya, meskipun kerusakan fisik sangat besar, aktivitas kota tetap berlanjut dalam keterbatasan, dan layanan darurat terus bekerja di bawah ancaman serangan lanjutan. Second Great Fire of London kemudian dikenang sebagai salah satu puncak kehancuran akibat perang udara di Inggris.. (wrd)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos