Sawit dan Perjalanan Panjangnya Hingga Menjadi Mesin Ekonomi Indonesia

JAKARTA | Priangan.com- Akhir-akhir ini, ekspansi kelapa sawit menjadi perbincangan hangat di ruang publik Indonesia. Di satu sisi, pemerintah memandang sawit sebagai penopang penting perekonomian nasional. Di sisi lain, masyarakat semakin khawatir terhadap dampak lingkungan akibat alih fungsi lahan, terutama setelah banjir besar yang melanda di tiga provinsi di Sumatra baru-baru ini. Peristiwa tersebut memperlihatkan ketegangan antara agenda pembangunan ekonomi dan daya dukung alam yang kian tertekan. Dalam konteks ini, sawit kerap diposisikan sebagai simbol dilema tersebut.

Namun, kelapa sawit tidak hadir di Indonesia sebagai komoditas ekonomi secara tiba-tiba. Tanaman ini memiliki sejarah panjang yang bermula jauh dari Asia Tenggara, tepatnya di Afrika Barat. Menengok ke masa lampau membantu memahami bahwa sawit pada awalnya tumbuh sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, bukan sebagai produk industri berskala besar.

Dilansir dari National Geographic Indonesia, sekitar 2.500 tahun lalu, perubahan iklim berupa musim kemarau panjang menciptakan kondisi yang memungkinkan pohon sawit berkembang lebih luas di Afrika Barat dan Afrika Tengah.

Bukti arkeologis menunjukkan bahwa minyak sawit telah digunakan sebagai bahan pangan setidaknya sejak 5.000 tahun lalu. Dalam rentang waktu tersebut, sawit menjadi bagian dari sistem pangan dan kehidupan masyarakat setempat.

Sebagian besar pohon sawit pada masa itu tidak ditanam dalam perkebunan khusus, melainkan tumbuh liar atau setengah liar di sekitar permukiman dan hutan. Hanya di wilayah tertentu, seperti Kerajaan Dahomey pada abad ke-18, sawit dikelola secara lebih terorganisasi oleh otoritas kerajaan. Meski demikian, produksi minyak sawit tetap berbasis komunitas dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan lokal, bukan untuk pasar luas.

Pengolahan minyak sawit dilakukan dengan cara tradisional dan umumnya menjadi pekerjaan perempuan. Buah sawit direbus, ditumbuk, disaring, lalu diperas hingga menghasilkan minyak merah dari daging buahnya. Biji sawit yang keras juga diolah untuk menghasilkan minyak biji sawit yang lebih bening. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun dan hingga kini masih dipraktikkan di berbagai wilayah Afrika Barat. Selain menopang kebutuhan rumah tangga, proses ini juga menjadi sumber penghidupan keluarga.

Lihat Juga :  Empat Fakta Unik Albert Einstein yang Jarang Diketahui

Dalam kehidupan masyarakat, minyak sawit memiliki banyak fungsi. Selain digunakan untuk memasak, minyak sawit dimanfaatkan untuk membuat sabun tradisional. Di beberapa kerajaan, seperti Kerajaan Benin, minyak sawit digunakan sebagai bahan bakar lampu dan campuran material bangunan. Dalam praktik pengobatan dan ritual adat, minyak sawit berperan sebagai salep, obat tradisional, serta perlengkapan upacara. Tidak hanya minyaknya, nira sawit diolah menjadi minuman, sementara daun dan batangnya dimanfaatkan sebagai atap rumah, anyaman, dan peralatan rumah tangga.

Peran sawit mulai berubah ketika Eropa memasuki era revolusi industri. Minyak sawit telah dikenal di Eropa sejak abad ke-15, tetapi permintaannya meningkat tajam pada awal abad ke-19. Salah satu pemicunya adalah pelarangan perdagangan budak oleh Inggris pada tahun 1807. Para pedagang Eropa, terutama dari Liverpool dan Bristol, kemudian mencari komoditas pengganti. Minyak sawit menjadi pilihan karena telah dikenal sebagai bahan makanan murah dan tahan lama selama pelayaran lintas Atlantik.

Lihat Juga :  Menilik Kawasan Cihapit Tempo Doeloe

Pada saat yang sama, industri di Eropa membutuhkan pasokan minyak dan lemak dalam jumlah besar. Lemak hewani sulit dipasok secara stabil dan harganya mahal. Minyak sawit, yang relatif murah dan mudah diimpor, digunakan sebagai pelumas mesin, bahan penerangan, lilin, pelapis logam, dan sabun. Penemuan teknik kimia pada dekade 1820-an mempercepat produksi sabun secara massal dan mendorong peningkatan permintaan minyak sawit.

Perdagangan minyak sawit pun berkembang pesat. Dari jumlah ratusan ton pada akhir abad ke-18, impor minyak sawit ke Eropa meningkat menjadi puluhan ribu ton pada pertengahan abad ke-19. Pusat perdagangan terkonsentrasi di wilayah Delta Niger, yang kemudian dikenal sebagai Oil Rivers.

Walakin, perdagangan ini tidak berlangsung setara. Pedagang Eropa menetap di kapal-kapal yang berlabuh di lepas pantai karena ancaman penyakit dan aturan lokal yang melarang pembangunan pos di daratan. Minyak sawit dikumpulkan oleh perantara Afrika dan ditukar dengan barang-barang Eropa, dengan jaringan perdagangan lama, termasuk mantan pedagang budak masih digunakan.

Lihat Juga :  Lawn Chair Larry, Kisah Nyata Larry Walters yang Terbang dengan Kursi Balon

Memasuki akhir abad ke-19, permintaan minyak sawit kembali meningkat setelah ditemukannya proses hidrogenasi untuk memproduksi margarin. Produk ini menjadi sumber lemak murah bagi masyarakat perkotaan di Eropa.

Pada periode yang sama, kekuasaan kolonial di Afrika Barat semakin menguat. Inggris dan Prancis mendirikan koloni dan mengambil alih kendali perdagangan, sehingga peran pedagang dan pemimpin lokal semakin terpinggirkan, sementara keuntungan utama dinikmati oleh perusahaan-perusahaan asing.

Perubahan terbesar dalam sejarah kelapa sawit justru terjadi di luar Afrika. Pada awal abad ke-20, bibit sawit dibawa ke Asia Tenggara. Di wilayah ini, sistem perkebunan modern dikembangkan secara besar-besaran dengan dukungan modal, teknologi, dan tenaga kerja terorganisasi. Hutan-hutan tropis dibuka untuk perkebunan monokultur sawit yang menghasilkan produksi jauh lebih tinggi dibandingkan sistem tradisional di Afrika Barat.

Dalam waktu relatif singkat, pusat produksi minyak sawit dunia pun berpindah. Afrika Barat kehilangan perannya sebagai produsen utama, sementara Malaysia dan Indonesia tumbuh menjadi penghasil terbesar yang hingga kini menguasai sebagian besar produksi global. Perjalanan panjang ini menunjukkan bahwa sawit telah berubah dari tanaman yang menyatu dengan kehidupan lokal menjadi komoditas industri berskala dunia. (LSA)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos