Qini Nasional ke-161 Jadi Momentum Transformasi Pendidikan Pesantren di Ponpes Tarekat Al-Idrisiyyah

TASIKMALAYA | Priangan.com – Pondok Pesantren Tarekat Al-Idrisiyyah Tasikmalaya akan menggelar Qini Nasional ke-161 pada Sabtu, 17 Januari 2026. Agenda nasional ini menjadi penanda dimulainya transformasi pendidikan pesantren menuju sistem pendidikan Islam modern berbasis minat dan kebutuhan zaman.

Dalam rangkaian Qini Nasional, Al-Idrisiyyah secara resmi melakukan kick-off transformasi pendidikan pesantren yang berbasis kurikulum minat dan kebutuhan zaman. Transformasi ini diarahkan untuk menjawab tantangan dunia pendidikan di era industri, digitalisasi, serta kebutuhan masa depan santri.

Deputi CEO Al-Idrisiyyah Foundation, Adang Nurdin, menjelaskan bahwa transformasi kurikulum pesantren dilakukan dengan pendekatan minat dan bakat santri. Menurutnya, pendidikan pesantren hari ini tidak cukup hanya menekankan satu jalur, tetapi harus mampu mengantarkan santri menjadi apa pun sesuai potensi yang dimiliki.

“Transformasi pendidikan ini berbasis kurikulum minat. Santri diarahkan sesuai passion dan potensi masing-masing, karena pendidikan harus relevan dengan tantangan zaman,” ujar Adang Nurdin, Kepada wartawan, Jumat (16/1/2026).

Dalam model baru tersebut, Al-Idrisiyyah menyiapkan lima kelas unggulan. Pertama, kelas keagamaan dan riset yang memadukan penguasaan kitab kuning dengan kemampuan penelitian. Kedua, kelas tahfidz dan sains yang mengintegrasikan hafalan Al-Qur’an dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Ketiga, kelas bahasa dan sosial yang fokus pada penguasaan bahasa asing seperti Inggris, Arab, dan Jepang. Keempat, kelas akuntansi dan keuangan lembaga yang diarahkan pada pengembangan kewirausahaan santri. Kelima, kelas Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT) bagi santri yang ingin mendalami dunia digital dan teknologi jaringan.

Adang menegaskan bahwa ilmu agama tetap menjadi fondasi utama dalam seluruh kelas unggulan tersebut. Nilai iman, Islam, ihsan, dan tasawuf tetap menjadi dasar yang wajib dikuasai seluruh santri, tanpa terkecuali.

Lihat Juga :  Sosialisasi Digital Marketing, Nurhayati Ajak Kaula Muda Garut Bantu Pelaku UMKM

“Ilmu agama adalah fondasi. Santri mau jadi pengusaha, pendidik, teknokrat, atau profesional, semuanya dibangun di atas dasar akhlak, iman, dan tasawuf yang kuat,” katanya.

Qini Nasional ke-161 sendiri diikuti ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Selain peserta utama Qini, panitia memperkirakan sekitar 2.000 undangan khusus hadir dalam agenda kick-off transformasi pendidikan pesantren. Peserta datang dari Sabang hingga Merauke.

Lihat Juga :  Bantah Tuduhan Megawati, Golkar Soroti Politik Saling Menghormati

Rangkaian kegiatan Qini Nasional meliputi Majelis Ilmu, Majelis Zikir, pelatihan-pelatihan, rapat koordinasi jawiyah cabang se-Indonesia, Rakor Khodijah yang melibatkan peran perempuan, hingga bazar dan penguatan training center. Namun, agenda utama tetap berfokus pada penguatan spiritual dan transformasi pendidikan pesantren.

Adang menyebut, transformasi pendidikan pesantren ini diharapkan menjadi titik awal perubahan lembaga pendidikan Islam Indonesia agar lebih maju, unggul, dan mampu bersaing secara global, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

“Pesantren ke depan harus seperti supermarket. Santri bisa menjadi apa pun sesuai minatnya, dari ustaz, pendidik, pengusaha, hingga profesional. Dari santri, untuk negeri,” pungkasnya.

Dengan digelarnya Qini Nasional ke-161 ini, Tarekat Al-Idrisiyyah menegaskan komitmennya menjadikan pesantren sebagai pusat pendidikan Islam modern yang bertasawuf, maju, unggul, dan mendunia. (yna)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos