TASIKMALAYA | Priangan.com – Kebijakan menu kering dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadhan 2026 di Kota Tasikmalaya memicu sorotan publik. Perubahan dari makanan siap santap menjadi paket kering berisi roti, susu, biskuit, telur, dan buah dinilai praktis dari sisi distribusi, namun dipertanyakan dari sisi kecukupan gizi dan daya kenyang saat berbuka puasa.
Sejumlah warga Kota Tasikmalaya menilai menu MBG Ramadhan tersebut belum sepenuhnya relevan dengan kebutuhan energi saat berpuasa. Dedi (41), orang tua penerima manfaat, mengatakan paket kering lebih cocok sebagai takjil, bukan pengganti makan utama.
“Kalau untuk berbuka memang membantu, tapi rasanya kurang cukup untuk mengembalikan tenaga setelah puasa seharian. Biasanya tetap harus ditambah makanan lain di rumah,” ujarnya kepada Priangan.com, Senin (23/2/2026).
Hal serupa disampaikan Lilis (37). Menurutnya, pola konsumsi selama Ramadhan berbeda dengan hari biasa. Kebutuhan kalori saat berbuka dan sahur justru lebih besar karena tubuh harus mengganti energi yang hilang.
“Menu keringan lebih cocok jadi pelengkap. Kalau aktivitas seharian padat, tetap butuh makanan berat. Kalau hanya roti dan susu, rasanya belum cukup,” katanya.
Kritik terhadap menu MBG Kota Tasikmalaya ini menguat karena program tersebut menjadi salah satu sumber asupan penting bagi sebagian keluarga. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, paket MBG diharapkan mampu menjaga kecukupan gizi anak selama bulan puasa.
Di sisi lain, pihak dapur pelaksana MBG mengakui penyesuaian menu dilakukan demi efektivitas distribusi selama Ramadhan. Imron (51), perwakilan dapur MBG, menjelaskan bahwa makanan siap santap yang dibagikan siang hari berisiko tidak dikonsumsi karena penerima manfaat sedang berpuasa.
“Selama Ramadhan kami ubah menjadi menu kering agar bisa dibawa pulang dan dimakan saat berbuka. Ini lebih aman dari sisi distribusi dan mengurangi potensi makanan terbuang,” jelasnya.
Ia juga mengakui ada keterbatasan teknis dalam penyusunan menu. Faktor daya tahan makanan dan standar logistik menjadi pertimbangan utama.
“Kami tetap berusaha menyusun menu yang bergizi. Tapi makanan harus tahan lama sampai waktu berbuka. Kalau makanan berat dibagikan siang hari, dikhawatirkan kualitasnya menurun,” tambahnya. (ags)

















