Program MBG Hanya Dongkrak Omzet Grosir, Pedagang Eceran Pasar Cikurubuk Tasikmalaya Menjerit

TASIKMALAYA | Priangan.com – Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tasikmalaya mulai mengguncang denyut ekonomi lokal. Di Pasar Cikurubuk, pusat perdagangan terbesar di Tasikmalaya, para pedagang buah merasakan dampak “dua sisi mata uang”: omzet grosir melonjak, tetapi kunjungan pembeli eceran justru merosot.

Sejak dapur-dapur MBG beroperasi di wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, permintaan buah dalam jumlah besar meningkat signifikan. Zainal, pedagang semangka dan melon di Pasar Cikurubuk, mengaku penjualan partai besar kini jauh lebih cepat berputar.

“Dampaknya terasa buat grosiran. Alhamdulillah tiap pemakaian MBG kebutuhan selalu terserap. Biasanya satu truk semangka habis dua hari, sekarang sehari sudah ludes,” ujar Zainal saat ditemui di lapaknya, Senin (2/3/2026).

Untuk menjaga pasokan buah ke dapur MBG Tasikmalaya, ia mendatangkan semangka langsung dari Sumatera dan melon dari Jawa Timur. Meski stok semangka relatif aman, ia mengakui pasokan melon sempat terganggu akibat banjir di daerah sentra produksi, yang berimbas pada kualitas dan harga.

Lonjakan permintaan dari program MBG juga berdampak pada kenaikan harga komoditas buah di Pasar Cikurubuk. Harga semangka yang sebelumnya berkisar Rp7.500 per kilogram kini melonjak menjadi sekitar Rp10.500 per kilogram.

Kenaikan ini menjadi tekanan bagi pedagang eceran Tasikmalaya. Dengan harga modal lebih tinggi dan persaingan langsung dari pembelian partai besar untuk dapur MBG, konsumen ritel mulai mengerem belanja.

“Pedagang eceran cukup berat. Biasanya ambil dua kuintal, sekarang paling satu kuintal. Harga naik, pembeli juga berkurang,” kata Zainal.

Fenomena serupa terjadi pada komoditas jeruk. Dani, pedagang jeruk di Pasar Cikurubuk, menyebut penyerapan oleh dapur MBG cukup tinggi karena jeruk menjadi menu rutin dalam paket makan bergizi gratis.

Lihat Juga :  Parkir Liar di Jalan HZ Mustofa Tasikmalaya Kian Meresahkan, Warga Desak Penataan Serius

“Penjualan meningkat, tapi harga juga ikut naik. Konsumsi tinggi, stok segitu-segitu saja. Jadi harga terdorong,” ujar Dani.

Lihat Juga :  Program MBG Kota Tasikmalaya Selama Puasa Tuai Kritik, Paket Kering Dinilai Belum Relevan

Namun di balik peningkatan volume grosir, suasana pasar tradisional Tasikmalaya justru terlihat lebih lengang dibandingkan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Banyak warga yang biasanya membeli buah untuk konsumsi harian kini tidak lagi rutin datang ke pasar, karena kebutuhan anak-anak mereka sudah tercukupi lewat program MBG.

Perubahan pola konsumsi ini memaksa pedagang kecil memutar strategi agar tetap bertahan. Jika sebelumnya mengandalkan pembeli ritel, kini mereka harus bersaing dalam rantai pasok yang lebih besar dan terpusat.

Para pedagang berharap Pemerintah Kota Tasikmalaya dan pihak terkait tidak hanya fokus pada penyerapan anggaran dan distribusi MBG, tetapi juga menjaga stabilitas harga di tingkat petani dan pasar tradisional. Tanpa pengendalian harga, mereka khawatir pedagang kecil dan masyarakat di luar cakupan program justru menjadi pihak yang paling terdampak. (ham)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos