Pinjol Naik 4,3 Persen di 2025, Tekanan Ekonomi dan PHK Jadi Pemicu

JAKARTA | Priangan.com – Tahun 2025 menjadi periode yang mengkhawatirkan bagi perekonomian Indonesia. Sejumlah peristiwa besar sepanjang tahun, mulai dari gelombang demonstrasi nasional pada Agustus, bencana alam di wilayah Sumatra, hingga perlambatan ekonomi, menjadi indikator bahwa kondisi ekonomi masyarakat tengah tertekan.

Salah satu sinyal paling nyata dari kondisi tersebut adalah melonjaknya kredit pinjaman online (pinjol) sepanjang 2025. Peningkatan pinjaman berbasis digital ini dinilai mencerminkan semakin rapuhnya daya tahan ekonomi rumah tangga di Indonesia.

Berdasarkan data yang disampaikan Rizky Awalil dalam siaran komentar berita, merujuk pada laporan detik.com, pertumbuhan kredit pinjol pada 2025 mencapai 4,3 persen. Angka tersebut jauh melampaui pertumbuhan kredit perbankan yang hanya sebesar 2,5 persen. Sementara itu, kredit UMKM di sektor perbankan tercatat berada di angka 4 persen.

Menurut Rizky Awalil, pesatnya laju kredit pinjaman online tidak lepas dari kemudahan proses pencairan yang ditawarkan oleh platform pinjol.

“Kredit pinjol melaju karena mudah dicairkan, hanya melihat administratif tanpa melihat kesanggupan membayar dari peminjam,” tegas Rizky.

Ia menjelaskan, skema pinjaman online yang minim verifikasi kemampuan finansial membuat masyarakat semakin mudah tergiur untuk mengajukan pinjaman, meski berisiko tinggi terhadap kemampuan bayar di kemudian hari.

Fenomena ini diperparah oleh kondisi sosial ekonomi yang semakin menekan. Rizky Awalil menambahkan bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor, disertai kenaikan harga kebutuhan pokok, makanan dan minuman, serta biaya pendidikan, mendorong masyarakat menjadikan pinjol sebagai jalan pintas untuk bertahan.

“Dampak PHK, kenaikan harga kebutuhan hidup, hingga biaya pendidikan turut menjadikan pinjol sebagai salah satu solusi cepat bagi masyarakat,” ujarnya.

Namun demikian, penggunaan pinjaman online secara masif justru berpotensi memperburuk kondisi ekonomi masyarakat dalam jangka panjang. Beban bunga tinggi dan tenor singkat kerap membuat peminjam terjebak dalam lingkaran utang pinjol.

Lihat Juga :  Tugu Koperasi Tasikmalaya Didorong Jadi Cagar Budaya Nasional, Simbol Perjuangan Ekonomi Kerakyatan

Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah dan otoritas keuangan, khususnya dalam pengawasan industri pinjaman online di Indonesia. Penguatan regulasi, peningkatan literasi keuangan masyarakat, serta perlindungan konsumen dinilai penting agar lonjakan kredit pinjol tidak berujung pada krisis sosial ekonomi yang lebih luas.

Lihat Juga :  BPK Bongkar Proyek Sekolah Asal Jadi di Kota Tasikmalaya: Uang Rakyat Ratusan Juta Terancam Hilang

Di tengah tekanan ekonomi 2025, fenomena meningkatnya kredit pinjol menjadi cerminan bahwa ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih, sekaligus menjadi alarm bagi negara untuk segera mengambil langkah konkret dan terukur. (Rco)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos