TASIKMALAYA | Priangan.com – Selama bulan Ramadan tahun ini, sektor perhotelan di Kota Tasikmalaya mengalami penurunan signifikan, khususnya dalam tingkat okupansi hotel yang tercatat turun hingga 45%. Namun, di balik lesunya hunian hotel, sektor restoran justru mencatatkan lonjakan yang cukup pesat, itu berkat banyaknya kegiatan buka puasa bersama yang kerap digelar masyarakat.
Hj. Susi Susanti, SE, MM, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Tasikmalaya, menyebutkan, penurunan tingkat hunian hotel ini merupakan hal yang biasa terjadi selama bulan Ramadan.
“Selama bulan suci ini, banyak orang memilih untuk lebih fokus pada ibadah dan mengurangi perjalanan, termasuk liburan atau menginap di hotel,” ujar Susi. “Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi sektor restoran. Justru, permintaan untuk acara buka puasa bersama meningkat pesat,” bebernya, Selasa, 1 April 2025.
Fenomena ini, lanjut Susi, menunjukkan adanya perubahan perilaku masyarakat selama Ramadan. Kegiatan buka puasa bersama menjadi salah satu pilihan utama untuk berkumpul dengan keluarga, teman, atau kolega, yang berimbas pada peningkatan kunjungan ke restoran.
“Restoran yang menyediakan paket buka puasa bersama mengalami kenaikan pengunjung hingga 50%. Ini menjadi tren tahunan yang menunjukkan adanya kebutuhan untuk tempat berkumpul yang nyaman,” paparnya.
Susi juga menyebutkan bahwa meskipun sektor perhotelan mengalami penurunan, industri restoran di Tasikmalaya tetap menunjukkan angka yang menggembirakan. Hal ini menunjukkan bahwa meski tidak ada lonjakan signifikan di sektor pariwisata, kebutuhan masyarakat terhadap kuliner dan tempat makan tetap tinggi, terutama pada waktu-waktu tertentu seperti buka puasa.
Tak hanya itu, Susi juga mencatatkan perkembangan positif pada sektor perhotelan dan restoran di Kota Tasikmalaya secara keseluruhan. Saat ini, terdapat 17 hotel berbintang dan 32 hotel non-bintang yang terdaftar dalam PHRI. Selain itu, masih banyak hotel dan restoran yang belum bergabung dalam organisasi ini.
“Jumlah ini menunjukkan adanya pertumbuhan yang baik di sektor pariwisata dan ekonomi daerah,” ujarnya.
Dengan adanya peningkatan permintaan di sektor restoran selama Ramadan, Susi berharap industri perhotelan dan restoran di Tasikmalaya bisa terus berkembang, terutama dengan adanya inovasi yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di luar bulan Ramadan. (Yga)