TASIKMALAYA | Priangan.com – Program dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Mandala Mekar, Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya, disebut memiliki perputaran dana cukup besar. Namun, dampak ekonomi program nasional tersebut dinilai belum dirasakan merata oleh masyarakat desa.
Kepala Desa Mandala Mekar, Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya, Alfie Akhmad Sa’dan Hariri, mengungkapkan satu dapur MBG dapat mengelola anggaran hingga miliaran rupiah dalam setahun. Meski begitu, keterlibatan warga lokal dalam program tersebut masih terbatas, terutama dari sisi tenaga kerja dan pemanfaatan potensi ekonomi desa.
“Secara anggaran memang besar, tapi dari sekitar 5.000 warga Desa Mandala Mekar, paling hanya sekitar 50 orang yang terdampak langsung. Jadi manfaat ekonominya belum terasa merata,” ujar Alfie dalam Podcas Priangan.com, Kamis (12/2/2026).
Ia menjelaskan, sebagian besar warga desa berharap program MBG bisa membuka lapangan kerja lebih luas, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal, terutama sektor pertanian, peternakan, dan usaha kecil. Namun kenyataannya, peluang tersebut belum optimal karena sejumlah kebutuhan bahan pangan masih dipasok dari luar desa.
Menurutnya, keterbatasan produksi pangan lokal menjadi salah satu kendala utama. Beberapa komoditas seperti sayuran, telur, maupun bahan pokok lain belum sepenuhnya mampu dipenuhi oleh petani dan pelaku usaha setempat dalam jumlah besar dan berkelanjutan.
“Kami sebenarnya ingin petani lokal dilibatkan lebih banyak supaya perputaran uang tetap di desa. Tapi karena produksi belum stabil, akhirnya sebagian bahan harus didatangkan dari luar wilayah,” katanya.
Kondisi tersebut membuat dampak ekonomi program MBG di Kabupaten Tasikmalaya dinilai belum signifikan bagi mayoritas warga, meski secara umum ada aktivitas ekonomi baru yang muncul di sekitar dapur MBG.
Alfie berharap ke depan ada sinergi lebih kuat antara pengelola program MBG dengan pemerintah desa agar potensi lokal bisa dimaksimalkan. Ia menilai pelibatan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan dapat membantu pemerataan manfaat ekonomi.
“Kalau masyarakat dilibatkan lebih luas, baik tenaga kerja maupun pemasok bahan pangan, tentu dampaknya akan jauh lebih terasa bagi ekonomi desa,” ucapnya.
Program Makan Bergizi Gratis di Tasikmalaya sendiri merupakan bagian dari kebijakan nasional untuk meningkatkan gizi masyarakat sekaligus mendorong ekonomi lokal. Namun di tingkat desa, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kesiapan sumber daya lokal hingga mekanisme distribusi manfaat ekonomi.
Pemerintah desa berharap evaluasi program terus dilakukan agar tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai secara merata, khususnya di wilayah pedesaan Kabupaten Tasikmalaya yang masih sangat bergantung pada sektor pertanian dan ekonomi lokal. (yna)

















