ISLAMABAD | Priangan.com – Pernyataan Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif yang menyebut Amerika Serikat seharusnya “menculik” Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memunculkan sorotan luas di tengah dinamika politik global yang sedang tegang. Ucapan tersebut disampaikan Asif pada Sabtu, 10 Januari 2026, menyusul operasi Amerika Serikat di Venezuela yang berujung pada penculikan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi Geo TV, Asif menilai tindakan Washington terhadap Venezuela membuka preseden berbahaya dalam hubungan internasional. Ia menyebut bahwa jika logika penculikan diterapkan atas dasar tuduhan pelanggaran hak asasi manusia, maka figur lain yang dinilai bertanggung jawab atas kekerasan berskala besar seharusnya lebih dahulu menjadi sasaran.
Dalam konteks tersebut, Asif secara terbuka menyebut Netanyahu sebagai figur yang layak dimintai pertanggungjawaban atas operasi militer Israel di Gaza. Ia menilai skala kekerasan yang terjadi telah melampaui batas konflik bersenjata konvensional dan menimbulkan dampak kemanusiaan luas terhadap warga sipil Palestina.
Pewawancara kemudian mengangkat spekulasi kemungkinan negara lain, termasuk Turki, mengambil langkah sepihak terhadap Netanyahu. Menanggapi hal itu, Asif menyatakan harapan agar pemimpin Israel tersebut dapat dihadapkan pada proses hukum, meski pernyataannya memicu perdebatan karena menggunakan istilah penculikan terhadap kepala pemerintahan negara lain.
Komentar Asif muncul di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel sejak serangan di Gaza yang dimulai pada Oktober 2023. Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu terkait dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, meski Israel menolak yurisdiksi pengadilan tersebut.
Pernyataan Menteri Pertahanan Pakistan tersebut menuai beragam respons di media sosial dan kalangan pengamat hubungan internasional. Sejumlah pihak menilai komentar itu mencerminkan kemarahan publik di negara-negara mayoritas Muslim, sementara yang lain mengingatkan bahwa seruan penculikan kepala negara berpotensi memperburuk ketegangan diplomatik dan melanggar prinsip hukum internasional.
Hingga berita ini diturunkan, tidak ada tanggapan resmi dari pemerintah Israel maupun dari Washington terkait pernyataan Asif. Namun, analis menilai ucapan tersebut berpotensi mempengaruhi hubungan Pakistan dengan negara-negara Barat, terutama di tengah situasi geopolitik yang semakin sensitif. (Zia)

















