Perjalanan Panjang Peru untuk Merdeka

LIMA | Priangan.com – Peru adalah salah satu negara yang berada di wilayah Amerika Selatan. Negara yang satu ini terkenal akan peninggalan sejarahnya yang megah, mulai dari warisan peradaban Inca hingga jejak perjuangan panjang melawan kolonialisme Spanyol. Sejarah kemerdekaan Peru menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa-bangsa di Amerika Latin yang berusaha melepaskan diri dari cengkeraman kekuasaan asing.

Peradaban Inca yang lahir di Cusco pada abad ke-13 sempat menjadi salah satu imperium terbesar di benua itu. Di bawah kepemimpinan Pachacútec, kekuasaan Inca meluas dari wilayah Ekuador hingga Chili, membentuk jaringan pemerintahan yang luas di sepanjang pegunungan Andes. Namun, kejayaan itu tidak berlangsung lama. Kedatangan bangsa Spanyol pada awal abad ke-16 membawa gelombang baru kolonialisme yang pada akhirnya menjatuhkan kekuasaan Inca. Eksekusi Túpac Amaru pada 1572 menjadi penanda berakhirnya dominasi politik Inca sekaligus awal penderitaan panjang penduduk asli.

Selama berabad-abad, rakyat Peru hidup di bawah eksploitasi Spanyol. Mereka dipaksa bekerja di tambang perak dan merkuri dengan upah nyaris tidak ada. Identitas budaya mereka ditekan, sementara agama Katolik dijadikan alat pengendalian. Perpaduan antara masyarakat asli, pendatang Eropa, dan budak Afrika melahirkan masyarakat multietnis baru, namun ketidakadilan semakin menumpuk dan menimbulkan perlawanan.

Situasi berubah drastis ketika Eropa diguncang invasi Napoleon yang melemahkan kerajaan Spanyol pada awal abad ke-19. Momentum itu dimanfaatkan para pemimpin revolusi di Amerika Selatan. Dari selatan, José de San Martín memimpin pasukan pembebasan yang bergerak melalui Andes menuju Lima, sementara Simón Bolívar dari utara turut mengirimkan kekuatan untuk mendesak mundur pasukan kolonial.

Puncaknya terjadi pada 1824 ketika pasukan gabungan berhasil menundukkan Spanyol dalam pertempuran penting di Ayacucho. Sejak saat itu, Peru memproklamasikan diri sebagai negara merdeka. Walau demikian, perjalanan menuju stabilitas tidak mudah. Setelah kemerdekaan, kekuasaan lebih banyak dipegang oleh militer, dan baru pada 1872 Peru memiliki presiden sipil pertama yang terpilih secara resmi.

Lihat Juga :  Pecahnya Perang Dunia I

Sepanjang abad-abad berikutnya, Peru masih bergulat dengan ketidakstabilan politik. Bahkan di era modern, pemerintahan sempat diwarnai rezim otoriter. Namun titik balik baru benar-benar terasa pada awal abad ke-21 ketika Alejandro Toledo, seorang presiden keturunan pribumi, terpilih memimpin negara. Sejak saat itu, Peru memasuki fase yang lebih stabil, dengan pertumbuhan ekonomi dan penguatan demokrasi sebagai hasil perjuangan panjang warganya.

Lihat Juga :  Mengenang Bandara Kemayoran, Gerbang Penerbangan Internasional Pertama Milik Indonesia

Kemerdekaan Peru bukan hanya kisah tentang pertempuran melawan Spanyol, melainkan juga tentang daya tahan sebuah bangsa dalam menjaga identitas dan haknya sebagai negara berdaulat. Hingga kini, jejak perjuangan itu tetap menjadi bagian penting dari jati diri Peru di tengah dinamika Amerika Latin. (wrd)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos