Perjalanan Januari Menggeser Maret sebagai Awal Tahun

JAKARTA | Priangan.com — Setiap pergantian tahun Masehi, kalender menunjuk Januari sebagai penanda awal. Angka tahun berubah, resolusi dirangkai, dan kehidupan seolah memulai babak baru. Namun, penempatan Januari sebagai pembuka tahun bukanlah ketetapan yang lahir sejak awal sejarah penanggalan. Dalam tradisi Romawi kuno, justru bulan Maret yang lebih dahulu memegang peran tersebut.

Sejak ribuan tahun lalu, manusia berusaha menata waktu sebagai bagian dari upaya memahami alam dan mengatur kehidupan. Berbagai peradaban mengembangkan sistem penanggalannya masing-masing. Masyarakat Mesolitik di Eropa menandai waktu melalui fase bulan. Bangsa Mesir kuno menggantungkan perhitungan pada peredaran matahari dan siklus banjir Sungai Nil. Di Tiongkok, sistem lunisolar yang memadukan matahari dan bulan lahir dan bertahan hingga kini. Dari kebutuhan inilah kalender berkembang, bukan sekadar alat hitung hari, melainkan kerangka bagi aktivitas sosial, ekonomi, dan keagamaan.

Salah satu sistem kalender yang pengaruhnya bertahan hingga era modern muncul di Romawi kuno. Pada masa awal berdirinya Roma, kalender hanya terdiri dari sepuluh bulan. Tahun dimulai pada Maret, bertepatan dengan datangnya musim semi, saat pertanian kembali bergeliat setelah musim dingin yang panjang.

Penanggalan itu berakhir pada Desember, ketika masa panen usai. Musim dingin tidak dihitung sebagai bagian dari tahun karena dianggap sebagai periode tanpa aktivitas penting. Akibatnya, waktu selama musim dingin dibiarkan tanpa nama bulan dan tanpa struktur kalender yang jelas.

Kalender Romawi awal mencerminkan kebutuhan praktis masyarakat agraris. Sejumlah bulan dinamai berdasarkan dewa-dewi yang dihormati, sementara bulan lainnya mengikuti urutan angka dalam bahasa Latin. September berasal dari kata septem yang berarti tujuh, Oktober dari octo yang berarti delapan. Pada masanya, penamaan tersebut selaras dengan posisi bulan-bulan itu dalam kalender.

Lihat Juga :  Garnerin dan Lompatan Pertamanya dengan Ide Parasut yang Cemerlang

Seiring berkembangnya kehidupan sosial dan administrasi negara, sistem ini mulai dirasakan tidak memadai. Seperti dicatat National Geographic, perubahan penting terjadi pada abad ke-7 SM, ketika Raja Numa Pompilius memperkenalkan dua bulan baru untuk mengisi kekosongan musim dingin, yakni Januari dan Februari.

Januari diambil dari nama Janus, dewa bermuka dua yang melambangkan peralihan dan permulaan. Februari berkaitan dengan Februa, ritual penyucian yang menutup siklus tahunan dalam tradisi Romawi. Dengan penambahan ini, musim dingin tidak lagi berada di luar hitungan waktu.

Namun, kalender baru tersebut masih menyisakan persoalan. Sistem penanggalan Romawi bertumpu pada peredaran bulan, yang tidak selalu sejalan dengan siklus matahari. Akibatnya, tanggal-tanggal penting perlahan bergeser dari musim yang semestinya.

Lihat Juga :  Hari ini Dalam Sejarah: Bung Karno Sampaikan Pidato Perdana sebagai Presiden

Untuk mengatasi masalah itu, bangsa Romawi menambahkan bulan sisipan bernama Mercedonius setiap beberapa tahun. Penerapannya tidak konsisten. Karena kalender berada di bawah kendali pendeta dan pejabat negara, penambahan bulan kerap dimanfaatkan untuk kepentingan politik, seperti memperpanjang masa jabatan atau menunda agenda tertentu. Kalender pun berubah menjadi alat kekuasaan.

Kekacauan tersebut mendorong reformasi besar pada masa Julius Caesar. Pada 45 SM, dengan bantuan Sosigenes, astronom dari Alexandria, Caesar memperkenalkan kalender berbasis matahari dengan 365 hari dan satu hari tambahan setiap empat tahun. Sistem ini dikenal sebagai kalender Julian dan membawa stabilitas yang belum pernah ada sebelumnya.

Dalam reformasi itu pula, 1 Januari ditetapkan sebagai awal tahun. Keputusan ini tidak semata bersifat simbolis. Pada tanggal tersebut, para konsul Romawi mulai menjabat, sehingga tahun baru dipahami sebagai awal tanggung jawab politik dan pemerintahan.

Meski demikian, penerapan 1 Januari sebagai awal tahun tidak serta-merta diterima di semua wilayah. Dalam tradisi Kristen awal, pergantian tahun kerap dikaitkan dengan hari-hari suci tertentu, bukan kalender sipil semata.

Lihat Juga :  Gurun El Alamein: Saksi Bisu Jatuhnya Rommel dan Kebangkitan Sekutu

Berabad-abad kemudian, kalender Julian kembali menghadapi persoalan. Selisih kecil dalam perhitungan tahun matahari perlahan menumpuk dan menyebabkan pergeseran musim. Untuk memperbaikinya, Paus Gregorius XIII memperkenalkan kalender Gregorian pada 1582, dengan penyesuaian yang lebih akurat terhadap peredaran matahari.

Sejak saat itu, 1 Januari diakui secara luas sebagai awal tahun baru dan digunakan oleh banyak negara di dunia. Namun, keseragaman ini tidak sepenuhnya menghapus keberagaman tradisi penanggalan.

Sejumlah gereja Ortodoks Timur masih menggunakan kalender lama, sehingga perayaan Natal jatuh pada Januari. Di wilayah lain, tahun baru dirayakan pada waktu berbeda, seperti Nowruz dalam tradisi Persia, Rosh Hashanah dalam budaya Yahudi, serta Tahun Baru Imlek di Asia Timur.

Perjalanan Januari menggantikan Maret sebagai awal tahun menunjukkan bahwa kalender bukanlah sesuatu yang beku. Ia berubah mengikuti kebutuhan manusia, kepentingan politik, dan cara peradaban memaknai waktu itu sendiri. (LSA)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos