OSLO | Priangan.com – Eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi memaksa Uni Eropa meninjau kembali rencananya menghentikan impor gas Rusia. Pada 3 Maret 2026, Menteri Energi Norwegia, Terje Aasland, memperingatkan bahwa krisis pasokan dapat menghidupkan cembali perdebatan ketergantungan energi Eropa terhadap Moskow.
Harga gas Eropa dilaporkan melonjak hingga 75% dalam sepekan terakhir, mencapai level tertinggi dalam tiga tahun, di tengah kampande militer AS-Israel terhadap Iran dan serangan balasan Iran. Gangguan tersebut berdampak langsung pada distribusi gas alam cair (LNG), terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi global.
Serangan di kawasan itu memaksa kapal tanker LNG menghentikan pelayaran, sementara Qatar dikabarkan menghentikan produksi pada awal pekan ini. UE selama ini memperoleh sekitar 5-15% pasokan gasnya dari Timur Tengah, dengan AS sebagai pemasok LNG terbesar sekitar 60%.
“Situasi geopolitik yang kita lihat saat ini, saya yakin debat tentang pemulihan impor gas Rusia akan kembali mencuat,” ujar Aasland dalam konferensi pers di Oslo. Ia menambahkan bahwa Norwegia sebagai pemasok gas pipa terbesar UE telah beroperasi pada kapasitas Penh dan tidak memiliki Ruang produksi tambahan.
Sebelumnya, UE telah menyetuji larangan impor gas Rusia hingga akhir 2027. Kebijakan tersebut dirancang melalui mekanisme hukum perdagangan dan energi, bukan skedar sanks formal yang memerlukan persetujuan bulat seluruh negara anggota. Namun, beberapa negara seperti Hungaria dan Slovakia menentang kebijakan itu dan menganvam akan menggugatnya.
Sejak mengurangi impor energi Rusia pasca-eskalasi konflik Ukraina pada 2022, UE menghadapi lonjakan biaya energi yang berulang. Tekanan baru akibat krisis Timur Tengah dikhawatirkan semakin membebani rumah tanga dan sektor industri Eropa.
Lembaga keuangan Goldman Sachs memperkirakan bahwa penghentian pengiriman melalui Selat Hormuz selama satu bulan dapat mendorong harga gas Eropa melonjak hingga 130% dari level saat ini.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengindikasikan operasi militer terhadap Iran dapat berlangsung selama beberapa Minggu ke depan, yang memperpanjang ketidak[pastian pasa energi global. (Zia)

















