TASIKMALAYA | Priangan.com – Usaha mebel di Kota Tasikmalaya masih bertahan meski menghadapi tekanan kenaikan harga bahan baku, persaingan furnitur pabrikan, serta maraknya produk impor yang mudah diakses lewat marketplace. Pelaku usaha lokal kini dituntut beradaptasi agar tetap kompetitif di pasar furnitur.
Permintaan produk seperti lemari, kursi, meja, hingga kitchen set masih terus ada, terutama dari kebutuhan rumah tangga dan proyek perumahan. Namun pelaku usaha mengakui kondisi pasar tidak selalu stabil, sehingga produksi kerap menyesuaikan pesanan.
Pengusaha mebel lokal, Ahmad Tijani, menyebut tren permintaan furnitur saat ini cenderung fluktuatif dibanding beberapa tahun lalu. Meski demikian, pelanggan tetap masih menjadi penopang keberlangsungan usaha.
“Permintaan sekarang tidak selalu ramai. Kadang banyak order, kadang sepi. Tapi usaha tetap berjalan karena pelanggan lama masih percaya kualitas mebel lokal,” ujarnya kepada Priangan.com, Minggu (14/2/2026).
Menurutnya, perubahan pola konsumsi masyarakat ikut memengaruhi usaha mebel. Banyak konsumen memilih furnitur jadi yang tersedia secara online karena dianggap lebih praktis dan ekonomis, meski kualitas belum tentu setara produk lokal custom.
Sementara itu, pelaku usaha lainnya, Imron, menyoroti kenaikan harga bahan baku seperti kayu dan bahan finishing sebagai tantangan serius. Kenaikan biaya produksi tidak selalu bisa diikuti kenaikan harga jual karena dikhawatirkan menurunkan daya beli konsumen.
“Harga kayu naik, otomatis biaya produksi ikut naik. Tapi kita tidak bisa langsung menaikkan harga tinggi karena pasar sensitif,” katanya.
Meski menghadapi tekanan pasar, optimisme pelaku usaha tetap ada. Furnitur berbahan kayu dinilai masih memiliki pasar tersendiri karena faktor kekuatan, estetika, dan fleksibilitas desain.
Pelaku usaha lain, Rudi, menambahkan strategi pemasaran kini mulai beralih ke digital. Promosi melalui media sosial dan marketplace dinilai efektif menjangkau konsumen lebih luas, khususnya untuk produk custom seperti kitchen set dan lemari.
“Sekarang promosi harus online juga. Banyak pesanan datang dari media sosial, terutama untuk desain custom sesuai kebutuhan rumah,” ujarnya.
Para pelaku usaha berharap dukungan pemerintah daerah terus ditingkatkan, terutama dalam pelatihan keterampilan, promosi produk lokal, serta akses permodalan bagi UMKM furnitur. Selain menjaga ekonomi kreatif daerah, sektor mebel juga dinilai mampu menyerap tenaga kerja lokal. (ags)

















