TASIKMALAYA | Priangan.com — Ustad Maman Suratman, praktisi pendidikan sekaligus pemilik Yayasan Pendidikan Ihya As-Sunnah Kota Tasikmalaya, menyebut sekolah swasta di Kota Tasikmalaya menghadapi tekanan berat di tengah kebijakan pendidikan yang dinilai kurang berpihak.
Saat ini minat masyarakat untuk mendaftarkan anak ke sekolah swasta membuat banyak lembaga pendidikan non-negeri gulung tikar secara perlahan. Fenomena ini sebagai kenyataan pahit yang tak bisa dihindari.
Menurutnya, daya saing sekolah swasta semakin lemah ketika masyarakat hanya melihat pendidikan dari sisi ijazah dan biaya.
“Kalau masyarakat hanya ingin selembar ijazah tanpa keluar biaya besar, ya sudah, mereka pasti pilih sekolah negeri. Gratis semua,” ujarnya, Rabu (9/7/2025).
Ia menambahkan, banyak sekolah swasta yang akhirnya tutup karena tidak mampu bersaing. “Contohnya SMA Pancasila. Sekarang bangunannya masih ada, tapi tinggal nama. Nama besarnya pun sudah memudar,” ungkapnya.
Menurut Ustad Maman, situasi ini makin diperparah dengan jumlah siswa per kelas (rombel) yang membeludak di sekolah negeri. Dengan dalih wajib menerima semua peserta didik, banyak kelas diisi hingga 40–50 siswa. Sementara sekolah swasta harus bersaing keras untuk mendapat murid, bahkan hanya empat orang dalam satu kelas.
“Banyak sekolah swasta yang cuma dapat empat murid per kelas. Lalu orang tanya: ‘Kenapa sekolah ini tidak diminati?’ Padahal itu bukan karena kualitasnya jelek, tapi karena masyarakat sudah punya opsi gratisan di tempat lain,” tuturnya.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa lembaga pendidikan swasta tetap memiliki pasar tersendiri, khususnya bagi masyarakat yang peduli pada nilai-nilai yang ditanamkan sekolah.
“Kalau masyarakat memang butuh pendidikan berkualitas, yang mengajarkan nilai agama, karakter, akhlak—ya mereka akan tetap datang. Sekolah swasta masih punya tempat kalau bisa menjawab kebutuhan zaman,” jelasnya.
Ia pun menyoroti beban guru di sekolah-sekolah negeri yang mengajar rombel besar tanpa dukungan asisten atau tenaga tambahan. “Bahkan dalam rombel kecil pun guru sudah kelelahan. Apalagi sampai 50 siswa. Energi guru terkuras, emosi gampang tersulut. Ini juga berisiko pada kualitas pembelajaran,” katanya.
Sebagai solusi, Ustad Maman mengajak pemerintah dan masyarakat untuk lebih rasional dan adil dalam melihat peran sekolah swasta.
“Kalau mau pendidikan yang ramah anak, ramah guru, dan bermutu, sekolah swasta harus diberi ruang hidup. Jangan sampai sekolah yang serius membangun karakter justru mati pelan-pelan,” pungkasnya. (yna)