TASIKMALAYA | Priangan.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diklaim mendorong ekonomi nasional justru dikeluhkan pedagang ayam di Pasar Cikurubuk. Alih-alih kebagian berkah, mereka mengaku omzet anjlok dan pasar makin sepi.
Aceng, pedagang ayam potong di Pasar Cikurubuk, menyebut penurunan penjualan terjadi sejak program MBG berjalan. Menurutnya, lonjakan permintaan ayam dalam jumlah besar membuat harga dari tingkat pemasok ikut terdongkrak.
“Terasa sekali dampaknya. Penjualan anjlok, omzet turun drastis. Harga dari sana sudah tinggi, imbasnya ke pasar jadi mahal. Konsumen jadi mikir dua kali buat beli, akhirnya pasar makin sepi,” keluh Aceng kepada Priangan.com, Selasa (3/3/2026).
Ia menilai kondisi saat ini bahkan lebih berat dibanding masa pandemi. Modal terus naik, sementara daya beli rumah tangga melemah. Pedagang terpaksa menaikkan harga jual agar tidak merugi, namun langkah itu justru membuat pembeli menjauh.
Persoalan lain adalah rantai distribusi. Ifan, pedagang ayam lainnya, mengungkapkan dapur-dapur penyedia MBG di daerah lebih memilih berbelanja langsung ke bandar besar atau suplier skala besar demi harga lebih murah.
“Banyak dapur MBG belanjanya langsung ke bandar besar. Harganya jelas di bawah pasaran kita. Kalau begini terus, pedagang kecil cuma jadi penonton. Modal harus tetap muter, tapi pembeli berkurang,” tegas Ifan.
Menurutnya, kebutuhan ayam untuk MBG yang mencapai tonase besar setiap hari membuat pasar tradisional kehilangan peran dalam rantai pasok. Pedagang kecil tidak punya akses bersaing dengan distributor besar yang bisa memasok dalam jumlah masif.
Para pedagang berharap ada evaluasi dalam skema pengadaan bahan baku MBG agar distribusi lebih merata dan tidak mematikan usaha kecil.
“Harapan kami sederhana, dapur-dapur itu belanjanya juga ke pedagang kecil seperti kami. Supaya roda ekonomi di bawah tetap muter dan harga bisa lebih stabil,” pungkas Ifan.
Jika tidak ada penataan ulang rantai pasok, pedagang khawatir Pasar Cikurubuk kian kehilangan denyutnya dan usaha kecil satu per satu terpaksa gulung tikar. (ham)

















