TASIKMALAYA | Priangan.com – Dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai terasa hingga ke pasar tradisional. Di Pasar Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, sejumlah pedagang mengeluhkan stok bahan pangan yang kian sulit didapat dan harga yang terus merangkak naik.
Sejak dapur MBG beroperasi di sejumlah sekolah wilayah Tasikmalaya, permintaan bahan pokok seperti telur, ayam potong, hingga sayuran meningkat tajam. Namun lonjakan serapan ini berdampak langsung pada distribusi ke pasar rakyat.
Yayah (47), pedagang telur di Pasar Manonjaya, mengaku kiriman dari distributor tak lagi selancar sebelumnya.
“Biasanya stok aman, sekarang sering dikurangi. Kata pemasok, banyak permintaan untuk dapur MBG, jadi harus dibagi,” ujarnya kepada Priangan.com, Senin (2/3/2026).
Akibatnya, ia tak selalu bisa memenuhi permintaan pelanggan. Dalam beberapa hari terakhir, pembeli eceran terpaksa mengurangi jumlah belanja karena harga ikut naik.
Keluhan serupa datang dari Dadan (41), pedagang ayam potong. Ia menyebut jumlah kiriman dari distributor menurun, sementara harga beli di tingkat awal sudah lebih tinggi.
“Kalau stok sedikit dan harga dari sananya naik, kita tidak punya pilihan selain ikut menaikkan harga. Pembeli protes karena beda dari minggu lalu,” katanya.
Tak hanya protein hewani, komoditas sayuran seperti wortel, kol, dan buncis—yang menjadi menu rutin dapur MBG—juga ikut terdampak. Beberapa pedagang terpaksa mencari pasokan tambahan ke luar daerah dengan harga lebih mahal demi menjaga lapak tetap terisi.
Fenomena ini menciptakan tekanan ganda di pasar tradisional Tasikmalaya: pasokan terbatas dan daya beli masyarakat yang mulai melemah. Pedagang menegaskan mereka tidak menolak program MBG yang bertujuan meningkatkan gizi anak sekolah, namun meminta distribusi bahan pangan diatur lebih proporsional.
“Programnya bagus untuk anak-anak. Tapi jangan sampai pasar rakyat yang menanggung dampaknya. Kalau barang susah dan mahal, kami juga yang repot ke pembeli,” ujar seorang pedagang sembako.
Para pedagang berharap Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya turun tangan memastikan stabilitas distribusi pangan. Mereka juga meminta ada komunikasi terbuka antara pengelola dapur MBG dan pelaku pasar lokal agar kebutuhan besar program tidak sepenuhnya menyedot stok yang biasa dialokasikan untuk pasar tradisional.
Hingga kini, aktivitas jual beli di Pasar Manonjaya masih berjalan normal. Namun di balik transaksi yang terlihat biasa, para pedagang harus bekerja ekstra mencari distributor alternatif agar lapak mereka tidak kosong.
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa pengaturan yang jelas, pedagang khawatir pasar tradisional Tasikmalaya akan semakin tertekan di tengah gempuran kebutuhan skala besar program MBG. (ags)

















