TASIKMALAYA | Priangan.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya menegaskan komitmennya untuk mendorong literasi dan inklusi keuangan di wilayah Priangan Timur sebagai langkah strategis meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.
Plt. Kepala OJK Tasikmalaya, Melati Usman, menjelaskan bahwa upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi erat dengan pemerintah daerah, industri jasa keuangan, dan Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Priangan Timur. Salah satu bentuk sinergi ini diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang mendukung pelaksanaan Hari Indonesia Menabung (HIM), sebuah program prioritas dalam Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLIK) 2021–2025.
“Kita terus menggiatkan program HIM berkolaborasi dengan seluruh stakeholder, dengan target para pelajar khususnya, agar edukasi dan inklusi keuangan bisa merata di Priangan Timur,” kata Melati kepada wartawan, Kamis (14/8/2025).
Melati menuturkan, HIM digalakkan dengan menyasar berbagai kalangan, khususnya pelajar, agar edukasi dan inklusi keuangan dapat dirasakan secara merata. Dalam beberapa pekan terakhir, OJK Tasikmalaya bersama FKIJK Priangan Timur menggelar rangkaian edukasi yang melibatkan siswa sekolah menengah hingga orang tua murid. Kegiatan tersebut meliputi pengenalan tugas dan fungsi OJK, pemahaman terhadap produk dan layanan lembaga jasa keuangan, serta pembelajaran tentang pengelolaan keuangan yang bijak dan bertanggung jawab.
Menurutnya, literasi yang baik akan membentuk generasi muda sebagai agen perubahan dalam membangun kebiasaan menabung, sekaligus mencegah mereka terjerat praktik keuangan ilegal seperti pinjaman online abal-abal dan investasi bodong. “Literasi keuangan yang baik adalah investasi terbaik bagi masa depan. Dengan memahami produk dan risiko keuangan, generasi muda dapat mengambil keputusan finansial yang tepat, mulai dari perencanaan pendidikan, investasi, hingga penggunaan teknologi keuangan secara bijak,” ujarnya.
Melati menegaskan bahwa literasi dan inklusi keuangan bukan hanya soal pengetahuan, melainkan juga membangun ekosistem keuangan yang sehat, aman, dan berkelanjutan. “Kami ingin masyarakat tidak hanya tahu caranya menabung atau berinvestasi, tetapi juga memahami risiko dan hak-hak mereka sebagai konsumen jasa keuangan,” katanya.
Ia menambahkan, kolaborasi lintas pihak menjadi kunci dalam menciptakan masyarakat yang cerdas mengelola uang dan terlindungi dari praktik keuangan ilegal. “Dengan edukasi yang tepat, masyarakat akan mampu memenuhi kebutuhan ekonominya secara mandiri, sekaligus berkontribusi aktif memperkuat perekonomian daerah dan nasional,” paparnya. (yna)