BANJAR | Priangan.com – Peringatan Hari AIDS Sedunia di Kota Banjar kembali menuai catatan. Acara yang digelar KPA Kota Banjar pada 10 Desember 2025 di lapang tenis Pendopo dinilai belum sepenuhnya mencerminkan semangat inklusivitas. Sejumlah aktivis menilai absennya kelompok berisiko dalam kegiatan utama justru memperlihatkan masih adanya jarak antara upaya kampanye dan kondisi riil di lapangan.
Pandangan tersebut disampaikan Aktivis Keberagaman Kota Banjar, Yuyun. Ia menilai ketidakhadiran kelompok yang rentan terhadap paparan HIV dalam peringatan tersebut bisa berdampak pada cara masyarakat memandang isu HIV AIDS.
“Hal itu tidak hanya memperkuat stigma, tapi juga bisa melegitimasi diskriminasi dan marginalisasi terhadap kelompok tersebut,” kata Yuyun, Jumat (12/12/2025).
Yuyun menekankan bahwa persoalan orientasi seksual tidak seharusnya dikaitkan secara langsung dengan penilaian moral. Ia mengingatkan bahwa HIV dapat menjangkiti siapa pun. Menurutnya, ruang diskusi publik justru perlu dibuat terbuka agar kelompok kunci, ODHIV, serta masyarakat umum bisa terlibat dalam dialog yang membangun dan berbasis fakta.
Di sisi lain, Yuyun juga mengingatkan kembali makna peringatan Hari AIDS Sedunia yang jatuh setiap 1 Desember. Ia menyebut momentum tersebut idealnya digunakan untuk meningkatkan pemahaman publik tentang HIV AIDS, memperkuat upaya pencegahan, dan mendorong akses layanan yang setara.
“Sehingga untuk mencapai tujuan itu harus ada keterlibatan dari semua pihak. Termasuk dari populasi kunci, stakeholder terkait dan yang peduli terhadap HIV AIDS,” tambahnya.
Suara serupa datang dari penggiat peduli HIV AIDS, Eva Latifah. Ia menilai peringatan HAS seharusnya mampu menjadi ruang untuk mengurangi stigma dan memperluas pemahaman masyarakat tentang pentingnya pencegahan dan layanan HIV.
“Jadi yang harus terlibat dalam peringatan itu adalah pemerintah, instansi terkait, LSM peduli HIV, dan organisasi kesehatan,” katanya.
Eva juga menyoroti pemanfaatan anggaran yang dinilainya perlu diarahkan secara lebih efektif. Ia mengusulkan pelibatan perwakilan dari masing-masing populasi kunci sebagai alternatif ketika dana terbatas. Menurutnya, pelaksanaan HAS tahun ini belum diarahkan pada sasaran yang tepat.
“Kami menyayangkan bahwa peserta peringatan HAS itu kurang tepat sasaran. Sehingga ke depannya berharap bisa lebih inklusif dan tepat sasaran,” ujarnya.
Ia turut mengklarifikasi terkait kegiatan pertemuan komunitas yang sebelumnya disebut sebagai rangkaian acara HAS oleh KPA Kota Banjar. Eva menyebut kegiatan tersebut merupakan aktivitas rutin yang memang selalu dilaksanakan setiap tahun sehingga tidak sepenuhnya relevan untuk dikaitkan dengan peringatan HAS 2025.
Sementara itu, pendamping sebaya, Kusmana, menilai peringatan HAS idealnya memberi ruang yang lebih besar bagi ODHIV. Ia menyebut kehadiran mereka sangat penting untuk menunjukkan bahwa hak hidup dan hak sosial mereka sama dengan masyarakat lainnya.
“Alangkah baiknya ketika HAS atau acara puncaknya itu yang lebih banyak dihadirkan atau dilibatkan adalah ODHIV itu sendiri,” kata Kusmana.
Ia juga menyampaikan bahwa layanan terkait PDP maupun KDS yang biasanya tersedia pada momentum serupa ternyata tidak tampak pada pelaksanaan tahun ini. Kusmana menilai hal tersebut menjadi catatan penting agar penyelenggaraan ke depan dapat lebih komprehensif dan belajar dari praktik baik di daerah lain.
Menurutnya, penyediaan layanan yang memadai adalah bagian dari komitmen terhadap penanganan HIV AIDS yang tidak dapat diabaikan, terlebih ketika acara peringatan sudah diorganisir secara cukup baik. (Eri)

















