Menu MBG 5 Hari di SDN Dadaha Disorot, Minim Variasi dan Dipertanyakan Kecukupan Gizinya

TASIKMALAYA | Priangan.com – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Dadaha menjadi perhatian publik. Pasalnya, siswa menerima satu paket makanan untuk kebutuhan lima hari dengan komposisi yang dinilai minim variasi.

Isi paket tersebut terdiri dari lima lembar roti tawar, lima butir kurma, satu buah pir, serta tiga kotak susu UHT ukuran kecil. Artinya, dalam satu hari anak hanya mengonsumsi satu lembar roti, satu kurma, sebagian pir, dan tidak setiap hari mendapat susu karena jumlahnya terbatas.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan soal kecukupan gizi dan konsep “bergizi” yang diusung program tersebut.

Salah satu orang tua murid, Pradnya (27), mengaku kecewa dengan komposisi menu yang diterima anaknya. Menurutnya, menu tersebut terlalu sederhana untuk kebutuhan anak usia sekolah dasar.

“Namanya makan bergizi gratis, kami kira ada nasi, lauk, atau sayur. Ini hanya roti dan kurma. Kalau untuk selingan mungkin cukup, tapi kalau disebut menu lima hari rasanya kurang layak,” ujarnya kepada Priangan.com, Rabu (25/2/2026).

Sorotan tak hanya soal variasi menu, tetapi juga pola pembagian. Paket kering yang dibagikan sekaligus untuk lima hari dinilai berisiko dikonsumsi habis dalam waktu singkat tanpa pengaturan harian yang jelas. Selain itu, sumber protein hewani hanya berasal dari susu, itu pun tidak tersedia untuk setiap hari.

Rudi (42), warga Dadaha, menilai program ini perlu evaluasi menyeluruh. “Kalau tujuannya untuk perbaikan gizi, harusnya ada standar jelas. Jangan sampai hanya sekadar pembagian makanan, tapi kandungan gizinya tidak dihitung matang,” katanya.

Hal senada disampaikan Siti (35), ibu rumah tangga yang khawatir terhadap dampak jangka panjang. “Anak-anak usia SD lagi aktif-aktifnya. Mereka butuh nasi, lauk, sayur. Kalau hanya roti dan kurma, takutnya tidak cukup untuk daya tahan tubuh dan konsentrasi belajar,” ujarnya.

Lihat Juga :  Bunda PAUD Kabupaten Bandung Raih BBPMP Award Kemendikdasmen 2025

Meski demikian, ada pula warga yang tetap mengapresiasi keberadaan program bantuan tersebut. Deni (29), pedagang sekitar sekolah, menyebut MBG tetap patut disyukuri, namun kualitasnya perlu ditingkatkan.

Lihat Juga :  Antisipasi Banjir, Warga Bojong Tritura Kota Tasik Bersih Bersih Sungai

“Kita tetap bersyukur ada bantuan. Tapi kalau ini program nasional dengan anggaran besar, kualitasnya juga harus sebanding. Jangan sampai masyarakat merasa ini setengah hati,” tuturnya.

Program MBG dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah dan menekan angka kekurangan gizi. Namun, dengan komposisi menu seperti ini, masyarakat berharap ada evaluasi cepat, terutama pada perencanaan menu, standar kandungan gizi, serta mekanisme pengawasan. (ags)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos