GARUT | Priangan.com – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadhan 2026 di Kabupaten Garut menuai sorotan tajam. Skema pembagian makanan kering untuk kebutuhan tiga hari yang diterapkan di sejumlah sekolah dasar dinilai belum mencerminkan prinsip gizi seimbang.
Sorotan menguat di SDN Cihaurkuning, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut. Di sekolah ini, siswa menerima paket MBG untuk tiga hari yang terdiri dari tiga roti, kacang dan abon, satu butir telur asin, apel, jeruk, lengkeng, satu kotak susu, keripik tempe, serta gorengan bayam.
Alih-alih mendapat apresiasi, komposisi menu tersebut justru memicu kritik dari orang tua siswa. Mereka mempertanyakan kualitas nutrisi dan kesesuaian anggaran program MBG Garut dengan makanan yang diterima anak-anak.
Nenden, salah seorang wali murid SDN Cihaurkuning, mengaku khawatir dengan efektivitas penggunaan anggaran dibandingkan kualitas menu.
“Kalau tingkat SD anggarannya Rp10 ribu per hari, berarti untuk tiga hari Rp30 ribu. Apakah memang ini sudah sesuai dengan budget dan kualitas makanannya?” ujarnya.
Ia juga menyoroti dominasi makanan olahan dan gorengan dalam paket tersebut.
“Makanannya ini banyak yang digoreng, seperti keripik tempe dan bayam. Bayamnya juga masih banyak minyaknya. Anak-anak kan seharusnya dapat makanan sehat, bukan terlalu banyak gorengan,” katanya.
Selain persoalan minyak berlebih, orang tua siswa juga mempertanyakan kandungan gula dari roti dan susu kotak yang diberikan. Mereka menilai istilah “Makan Bergizi Gratis” semestinya identik dengan asupan protein hewani, sayuran segar, dan menu minim proses penggorengan, bukan didominasi makanan kemasan.
Program MBG di Kabupaten Garut sejatinya bertujuan meningkatkan kesehatan dan asupan gizi siswa, termasuk selama bulan puasa dengan sistem keringan agar bisa dibawa pulang untuk berbuka. Namun, polemik menu MBG tiga hari ini memunculkan pertanyaan: apakah kualitas nutrisi sudah menjadi prioritas utama, atau sekadar fokus pada distribusi dan efisiensi?
Sejumlah warga berharap Pemerintah Kabupaten Garut dan pelaksana MBG segera melakukan evaluasi menyeluruh, terutama terkait komposisi menu, keseimbangan gizi, serta transparansi anggaran. Sebab bagi sebagian keluarga, paket MBG menjadi salah satu sumber asupan penting bagi anak selama Ramadhan. (yna)

















