TASIKMALAYA | Priangan.com – Tiga pekan menjelang Hari Raya Iduladha, aktivitas jual beli di Pasar Hewan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, masih belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Suasana pasar yang biasanya mulai ramai di masa-masa seperti ini justru terlihat sepi dari pembeli, terutama untuk hewan kurban jenis sapi.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa meskipun para pedagang tetap hadir dan menawarkan dagangannya, jumlah transaksi yang terjadi jauh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Banyak dari mereka yang memilih untuk tidak membawa terlalu banyak stok sapi, karena khawatir tidak akan laku terjual.
Kepala UPTD Pasar Hewan Manonjaya, Rukmana, menyebutkan bahwa hari ini hanya sekitar 250 ekor sapi yang masuk ke pasar, namun hanya sekitar 30 ekor yang berhasil terjual.
Menurutnya, angka tersebut jauh di bawah penjualan pada periode yang sama tahun lalu.
“Kalau tahun lalu, satu sampai dua bulan sebelum Iduladha, pasar sudah mulai ramai. Sekarang kondisinya masih landai. Kami melihat ini berkaitan erat dengan daya beli masyarakat yang belum pulih,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh salah satu pedagang, Nurul Fajar Sidik. Ia mengaku menahan untuk membawa lebih banyak sapi karena khawatir tak akan ada pembeli.
“Jumlah pedagang memang banyak, tapi pembelinya masih sepi. Kalau dibandingkan tahun kemarin, jelas terasa perbedaannya. Masyarakat sepertinya masih berpikir ulang karena faktor ekonomi,” katanya.
Ironisnya, di tengah menurunnya permintaan, harga sapi justru mengalami kenaikan. Para pedagang menyebut bahwa harga per ekor naik sekitar satu hingga dua juta rupiah, tergantung ukuran dan kondisi hewan. Hal ini membuat calon pembeli semakin menunda keputusan untuk membeli.
Para pedagang berharap dalam dua pekan ke depan kondisi pasar membaik, mengingat waktu pelaksanaan kurban semakin dekat.
Mereka berharap daya beli masyarakat bisa kembali naik dan pasar kembali bergairah menjelang puncak penjualan hewan kurban. (yna)