JAKARTA | Priangan.com – Di bulan suci Ramadan, kurma selalu menjadi primadona di meja makan saat berbuka. Rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut seolah menjadi penanda khas datangnya bulan suci. Namun, di balik tradisi tersebut, kurma bukan sekadar hidangan pembuka puasa, buah ini menyimpan beragam manfaat kesehatan yang sayang untuk dilewatkan.
Saat seharian menahan lapar dan dahaga, tubuh membutuhkan asupan yang mampu memulihkan energi dengan cepat. Kurma menjadi pilihan yang tepat karena mengandung fruktosa alami yang mudah diserap tubuh. Dalam beberapa butir saja, tubuh memperoleh dorongan energi instan yang membantu mengatasi rasa lemas setelah berpuasa. Tidak heran jika kurma kerap dianjurkan sebagai makanan pertama saat berbuka, karena mampu mengembalikan stamina tanpa membebani sistem pencernaan.
Dilansir dari Alodokter, selain menjadi sumber energi, kurma juga dikenal baik untuk kesehatan saluran cerna. Kandungan serat dan karbohidrat kompleks di dalamnya membantu melancarkan proses pencernaan serta mencegah sembelit, kondisi yang kerap muncul akibat perubahan pola makan selama Ramadan. Serat tersebut juga berperan menjaga keseimbangan bakteri baik di dalam usus, sehingga sistem pencernaan tetap optimal dan tubuh lebih tahan terhadap gangguan kesehatan.
Meski bercita rasa manis, kurma tergolong aman dikonsumsi oleh penderita diabetes dalam jumlah yang wajar. Hal ini karena kurma memiliki indeks glikemik yang relatif rendah, sehingga tidak menyebabkan lonjakan gula darah secara drastis. Antioksidan yang terkandung di dalamnya bahkan berpotensi membantu mengontrol kadar gula darah dan mengurangi risiko resistensi insulin. Kendati demikian, konsumsi tetap perlu dibatasi dan diimbangi dengan pola makan sehat secara keseluruhan.
Manfaat kurma juga meluas hingga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Kandungan kalium, serat, serta antioksidan di dalamnya berperan dalam membantu menjaga tekanan darah tetap stabil. Kurma yang rendah natrium pun menjadi pilihan yang lebih aman bagi individu dengan hipertensi. Dengan asupan yang tepat, kurma dapat menjadi bagian dari pola makan yang mendukung kesehatan kardiovaskular.
Bagi ibu hamil, kurma menawarkan manfaat yang tidak kalah penting. Berbagai vitamin, mineral, protein, dan antioksidan di dalamnya membantu memenuhi kebutuhan gizi selama masa kehamilan. Asupan energi dari kurma dapat mengurangi rasa lelah yang kerap dirasakan calon ibu.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi kurma menjelang persalinan dapat membantu memperlancar proses persalinan normal. Lebih jauh lagi, kecukupan nutrisi dari kurma turut mendukung tumbuh kembang janin serta membantu menurunkan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah.
Tidak berhenti di situ, kandungan mineral seperti fosfor, kalsium, kalium, dan magnesium pada kurma berperan dalam menjaga kekuatan tulang. Dengan terpenuhinya kebutuhan mineral tersebut, risiko osteoporosis dapat ditekan. Antioksidan seperti lutein dan flavonoid juga membantu melindungi sel-sel mata dari kerusakan akibat radikal bebas, sehingga berpotensi menurunkan risiko katarak dan degenerasi makula terkait usia.
Kurma pun mengandung zat besi yang penting dalam pembentukan sel darah merah. Bersama vitamin B6 dan seng, zat besi membantu tubuh memproduksi hemoglobin secara optimal, sehingga risiko anemia dapat dicegah. Bahkan, berbagai penelitian awal menunjukkan bahwa senyawa fenolik dan flavonoid dalam kurma memiliki potensi dalam menghambat pertumbuhan sel kanker tertentu, meskipun temuan ini masih memerlukan kajian lebih lanjut.
Dalam empat butir kurma, terkandung energi yang cukup besar serta beragam zat gizi penting bagi tubuh. Meski demikian, konsumsi tetap perlu dilakukan secara bijak. Anjuran umum adalah sekitar empat buah per hari, disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing. (LSA)

















