Menilik Konflik Abadi di Afghanistan

KABUL | Priangan.com – Konflik besar di Afghanistan pada awal abad ke-21 berangkat dari rangkaian peristiwa yang berlapis dan berlangsung cukup lama. Negara yang berada di persimpangan Asia Tengah dan Asia Selatan ini sudah mengalami ketegangan politik dan kekerasan sejak era pendudukan Soviet pada 1979. Setelah pasukan Soviet menarik diri pada 1989, Afghanistan tidak langsung memasuki masa stabil. Berbagai kelompok bersenjata yang sebelumnya bersatu melawan Uni Soviet kemudian saling berebut pengaruh. Kondisi itu membuka jalan bagi munculnya Taliban pada pertengahan 1990-an, yang pada 1996 berhasil menguasai Kabul dan mendirikan pemerintahan berbasis interpretasi ketat hukum Islam.

Ketika Taliban memegang kendali, Afghanistan menjadi tempat beroperasinya al-Qaeda, kelompok yang dipimpin Osama bin Laden. Hubungan antara Taliban dan al-Qaeda semakin mendapat sorotan setelah sejumlah aksi teror internasional dikaitkan dengan jaringan tersebut. Situasi berubah drastis pada 11 September 2001 ketika Amerika Serikat menjadi sasaran serangan yang menewaskan ribuan orang. Pemerintah AS menuding al-Qaeda sebagai pelaku dan menuntut Taliban menyerahkan para pemimpinnya. Permintaan itu tidak dipenuhi, sehingga memicu ketegangan diplomatik yang berujung pada keputusan AS untuk melakukan intervensi militer.

Pada 7 Oktober 2001, Amerika Serikat bersama koalisi internasional memulai operasi militer ke Afghanistan. Serangan udara diarahkan kepada instalasi penting yang dikuasai Taliban dan al-Qaeda. Dalam waktu singkat, kelompok anti-Taliban yang dikenal sebagai Northern Alliance bergerak bersama pasukan koalisi untuk merebut kota-kota utama. Kabul jatuh pada November 2001, sementara Taliban memilih mundur ke wilayah pegunungan dan mempertahankan perlawanan dengan taktik gerilya.

Setelah pemerintahan baru dibentuk di Kabul, konflik tidak berakhir. Serangan sporadis, bom jalanan, dan aksi kelompok bersenjata terus terjadi. Ketidakstabilan politik, perpecahan antar kelompok lokal, serta kondisi geografis yang sulit diawasi membuat upaya pemulihan keamanan berjalan pelan. Pasukan koalisi kemudian menambah fokus pada pelatihan militer dan polisi Afghanistan sambil tetap menghadapi serangan yang datang dari berbagai wilayah. (wrd)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos