Mengenang Tragedi Ledakan Gas di Tambang Mitsubishi Hōjō

TOKYO | Priangan.com – Selasa, 15 Desember 1914, suasana di Tambang Batu Bara Mitsubishi Hōjō di Pulau Kyūshū, Jepang, berubah menjadi duka setelah ledakan besar terjadi di dalam area penambangan. Ledakan tersebut berasal dari dalam terowongan tambang yang saat itu sedang dipenuhi para pekerja. Dalam hitungan menit, aktivitas rutin penambangan berubah menjadi salah satu bencana industri paling mematikan dalam sejarah Jepang.

Tambang Hōjō merupakan bagian dari jaringan tambang batu bara yang dikelola perusahaan Mitsubishi, yang pada awal abad ke-20 menjadi penopang utama kebutuhan energi Jepang.

Pada hari itu, ratusan penambang berada di bawah tanah menjalankan tugas mereka ketika akumulasi gas metana dan debu batu bara di udara tambang tersulut percikan api. Campuran tersebut memicu ledakan hebat yang merambat cepat melalui lorong-lorong tambang, merusak struktur penyangga dan memicu kebakaran di sejumlah titik.

Ledakan tersebut menewaskan sekitar 687 orang, sebagian besar adalah penambang yang tidak sempat menyelamatkan diri. Beberapa korban diketahui merupakan perempuan yang bekerja di tambang, sebuah praktik yang masih umum pada masa itu. Skala korban jiwa menjadikan peristiwa ini sebagai kecelakaan tambang paling mematikan yang pernah terjadi di Jepang hingga saat ini.

Upaya penyelamatan segera dilakukan oleh pihak pengelola tambang dan warga sekitar. Namun, kondisi di bawah tanah menyulitkan proses evakuasi. Gas beracun dan asap tebal memenuhi terowongan, sementara api terus berkobar di beberapa bagian.

Dalam situasi keterbatasan pengetahuan dan teknologi keselamatan, pengelola tambang melakukan berbagai cara untuk menanggulangi gas berbahaya, termasuk menjatuhkan buah jeruk ke dalam poros tambang dengan anggapan dapat menyerap racun di udara. Cara tersebut tidak membuahkan hasil signifikan.

Lihat Juga :  Goa Jepang Kaliurang, Saksi Kelam di Lereng Merapi

Seiring berjalannya waktu, demi mencegah api meluas, beberapa akses tambang akhirnya ditutup. Keputusan ini menghentikan suplai oksigen ke dalam terowongan, yang pada akhirnya menyebabkan para pekerja yang masih terjebak di dalam kehilangan peluang untuk bertahan hidup. Setelah api berhasil dikendalikan, proses pengangkatan jenazah berlangsung dalam suasana duka mendalam. (wrd)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos