SANAA | Priangan.com — Pemerintah Yaman menuding kelompok separatis Selatan menghalangi akses menuju kota pelabuhan Aden. Tuduhan itu disampaikan pada 4 Januari 2026, sehari setelah pasukan pemerintah mengklaim merebut kembali wilayah strategis di bagian timur negara tersebut.
Dalam pernyataan resmi kepresidenan, pemerintah menyebut Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) telah membatasi pergerakan warga menuju Aden serta melakukan penangkapan di dalam kota. Pemerintah memperingatkan akan mengambil “semua langkah yang diperlukan” apabila kondisi tersebut tidak berubah.
Menanggapi tuduhan tersebut, juru bicara STC membantah klaim pemerintah dan menyebutnya sebagai “distorsi total atas fakta”. STC menegaskan situasi keamanan di Aden masih terkendali. Hingga kini, laporan dari kedua pihak belum dapat diverifikasi secara independen.
Ketegangan terbaru ini mencerminkan rapuhnya proses dialog antara pemerintah dan STC. Sebelumnya sempat muncul sinyal pembukaan kembali jalur negosiasi. Konflik internal tersebut juga memperdalam perpecahan di dalam koalisi negara-negara Teluk yang sejak lama terlibat dalam perang melawan kelompok Houthi yang didukung Iran.
Seorang pejabat senior pemerintah menyatakan pasukan akan terus bergerak menuju Aden. Menurutnya, dialog baru akan dimulai setelah kota tersebut dinyatakan aman. Ia tidak merinci bagaimana operasi militer akan dijalankan maupun jadwal pelaksanaannya.
Aden selama ini menjadi pusat kekuasaan utama pemerintah Yaman yang diakui secara internasional sejak 2015. Namun, pada awal bulan lalu, para pemimpin pemerintah dilaporkan meninggalkan kota tersebut menuju Arab Saudi setelah STC mengambil alih kendali di sejumlah titik strategis.
Sebelumnya, pemerintah juga mengklaim telah merebut kembali kota Mukalla di Provinsi Hadramaut. Warga di sekitar Aden melaporkan pendirian sejumlah pos pemeriksaan oleh STC. Bandara Aden sempat ditutup akibat perselisihan terkait penerbangan dengan Uni Emirat Arab, sebelum satu penerbangan kembali beroperasi keesokan harinya.
Arab Saudi menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah forum dialog guna menyelesaikan konflik di wilayah selatan Yaman. STC menyambut rencana tersebut, menandakan mulai tumbuhnya pandangan bahwa perundingan menjadi jalan keluar untuk meredakan eskalasi yang meningkat sejak awal bulan. (Zia)

















