BANDUNG | Priangan.com – Nama Resa Khoerunisa menjadi contoh nyata bahwa prestasi akademik, konsistensi, dan keberanian menghadapi tantangan bisa mengantarkan anak daerah menembus industri strategis energi panas bumi. Lulusan Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran ini sukses meraih Beasiswa Star Energy Geothermal 2025 dan kini berkarier sebagai konsultan geologi di Kota Bandung.
Perempuan kelahiran Maret 2003 asal Banjaran, Kabupaten Bandung itu lulus pada Agustus 2025 dengan predikat cumlaude dan IPK 3,76. Sejak sekolah, ia dikenal sebagai siswa berprestasi dan langganan juara kelas. Konsistensi itu terus ia jaga hingga bangku kuliah.
Memilih jurusan Teknik Geologi bukan keputusan spontan. Dunia lapangan, pemetaan, penelitian batuan, hingga eksplorasi sumber daya alam menjadi panggilan yang sesuai dengan karakternya yang menyukai tantangan dan alam terbuka.
“Saya memang suka kerja lapangan. Dari kuliah sudah terbiasa turun langsung ke lokasi penelitian. Sekarang bekerja sebagai konsultan geologi, jadi ilmunya benar-benar terpakai,” ujar Resa.
Tantangan terberat justru datang di tahun terakhir perkuliahan. Penelitian skripsi membutuhkan biaya besar, mulai dari survei lapangan, pengolahan data, hingga pencetakan peta geologi. Di tengah kebutuhan tersebut, Resa mendapat kabar menggembirakan: ia lolos sebagai penerima beasiswa pendidikan dari Star Energy Geothermal melalui unit operasinya Star Energy Wayang Windu, Pangalengan.
Nilai beasiswa sebesar Rp10 juta menjadi penopang penting penyelesaian studinya. Proses seleksinya tidak mudah. Selain prestasi akademik, penerima harus memenuhi kriteria domisili di sekitar wilayah operasi perusahaan serta menunjukkan rekam jejak capaian yang konsisten.
“Ada beberapa persyaratan yang ternyata saya masuk kriteria, salah satunya domisili. Saya tinggal di Banjaran dan lokasinya dekat dengan area operasi di Pangalengan,” katanya.
Bagi Resa, beasiswa tersebut bukan hanya bantuan dana, tetapi juga bentuk pengakuan atas kerja kerasnya selama ini. Dukungan itu memberinya ruang untuk fokus menyelesaikan skripsi tanpa terbebani tekanan finansial.
Lulus tepat waktu dalam empat tahun, Resa tidak menunggu lama untuk terjun ke dunia profesional. Kini ia bekerja sebagai konsultan geologi di Bandung, menangani analisis kondisi tanah, kajian kebumian, hingga pendampingan teknis proyek pembangunan dan lingkungan.
Perjalanan Resa sejalan dengan visi program beasiswa Star Energy Geothermal yang telah berjalan sejak 2010. Program ini telah membantu 245 siswa dengan tingkat kelulusan 100 persen. Banyak di antaranya kini bekerja di sektor industri maupun menjadi wirausaha.
Head of Social Investment, Policy, and Corporate Communication Star Energy Geothermal, Laksmi Prasvita, menyebut program ini dirancang untuk meningkatkan akses pendidikan tinggi bagi putra-putri terbaik di sekitar wilayah operasi perusahaan. Ke depan, seleksi akan dimulai sejak tingkat SMA melalui program bimbingan belajar, dengan target 100 siswa binaan dan 15 penerima beasiswa baru setiap tahun.
Penerima beasiswa juga berkesempatan mengikuti program magang dan pengembangan karier di lingkungan perusahaan, membuka peluang lebih luas di sektor energi panas bumi nasional.
Meski telah bekerja, Resa menyimpan target besar: melanjutkan pendidikan S2 di bidang geologi dan memperdalam keahlian di sektor energi dan lingkungan. Baginya, usia muda bukan alasan untuk berhenti belajar.
“Menjadi orang berprestasi itu harus. Saya dulu aktif ikut lomba-lomba, dan itu memberi nilai tambah dalam hidup saya. Yang penting tetap jujur dan konsisten,” tegasnya.
Kisah Resa Khoerunisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa geologi, penerima beasiswa pendidikan, dan generasi muda Jawa Barat bahwa peluang di industri energi geothermal terbuka lebar bagi mereka yang berani berjuang dan menjaga prestasi. (yna)

















