BANJAR | Priangan.com – Pemanfaatan limbah kayu menjadi produk bernilai ekonomi terus dikembangkan pelaku usaha rumahan di Kota Banjar. Dari lingkungan Siluman Baru, Kecamatan Purwaharja, muncul kerajinan aksesori berbentuk miniatur lesung yang mengangkat kembali alat tradisional penumbuk padi ke dalam karya bernuansa budaya.
Miniatur lesung tersebut dibuat lengkap dengan alu kecil dan tangkai padi sebagai pelengkap. Bentuknya dirancang menyerupai lesung yang dahulu digunakan masyarakat untuk mengolah hasil panen padi. Saat ini, fungsi lesung telah banyak ditinggalkan dalam aktivitas sehari-hari, meski masih ditemukan dalam sejumlah kegiatan adat.
Pengrajin aksesori tersebut, Aan Andriana, menuturkan ide pembuatan miniatur lesung berangkat dari keinginannya menjaga nilai tradisi agar tetap dikenal. Menurutnya, keberadaan lesung kini lebih sering dijumpai dalam acara adat dibandingkan penggunaan praktis seperti di masa lalu.
“Miniatur ini terinspirasi dari lesung alat penumbuk padi tradisional dan baru satu bulan ini kami jalankan,” kata Aan, Rabu (17/12/2025).
Dalam proses produksinya, Aan memanfaatkan limbah kayu jati sebagai bahan utama. Kayu jati dipilih karena memiliki karakter kuat dan tampilan serat yang menarik. Selain itu, kualitas kayu tersebut dinilai mampu bertahan dalam jangka waktu lama sehingga cocok dijadikan aksesori.
“Kalau limbah kayu jati satu hari dapat 2 set tapi kalau limbah kayu yang lain seperti kayu suren itu bisa 5 set cuma nilai estetiknya kurang jadi saya gunakan limbah jati,” ujarnya.
Pengerjaan miniatur lesung masih dilakukan secara manual dengan peralatan sederhana. Dalam satu hari, Aan mampu menyelesaikan dua set miniatur dari limbah kayu jati. Proses pembuatan yang mengandalkan pahat dan golok ini menjadi ciri khas produksi rumahan yang dikelolanya.
Untuk pemasaran, produk miniatur lesung saat ini masih ditawarkan secara langsung kepada konsumen di sekitar wilayah Banjar. Harga yang dipatok berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per unit, menyesuaikan tingkat kerumitan dan bahan yang digunakan.
“Harapan saya ini ke depan bisa menjadi produk lokal daerah dan juga bisa mengangkat perekonomian masyarakat sekitar melalui produk industri rumahan,” ucap Aan.
Melalui kerajinan berbahan limbah kayu tersebut, nilai tradisi dan kreativitas lokal diharapkan tetap terjaga sekaligus memberi kontribusi bagi pengembangan ekonomi masyarakat setempat. (Eri)

















