PUERTO RICO | Priangan.com – San Juan menjadi saksi salah satu peristiwa paling dikenang dalam sejarah akrobat tali tinggi pada 22 Maret 1978. Hari itu, Karl Wallenda, tokoh sentral di balik kelompok legendaris The Flying Wallendas, kembali menantang ketinggian dengan berjalan di atas kabel yang direntangkan di antara dua gedung Condado Plaza Hotel. Kabel itu menggantung sekitar 37 meter di atas jalan kota, tanpa jaring pengaman di bawahnya.
Wallenda bukan nama asing di dunia sirkus. Selama puluhan tahun, ia dikenal sebagai simbol keberanian ekstrem dan disiplin tinggi dalam seni high wire. Meski telah berusia 73 tahun, ia tetap mempertahankan prinsip lama keluarganya, tampil tanpa perlindungan tambahan sebagai bentuk kepercayaan penuh pada keterampilan dan latihan.
Ratusan pasang mata menyaksikan aksinya dari jalanan dan balkon hotel. Saat Wallenda berada di titik tengah kabel, angin laut bertiup kencang dan mulai menggoyangkan pijakan. Ia terlihat berusaha menyesuaikan posisi tubuh, sempat merendahkan badan sambil mencengkeram tongkat penyeimbang. Namun, hembusan angin yang tidak stabil membuat kabel terus bergerak. Beberapa detik kemudian, keseimbangan itu runtuh.
Tubuh Wallenda terjatuh dari ketinggian, menghantam sebuah taksi yang terparkir sebelum membentur aspal. Ia segera dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong. Peristiwa tersebut mengakhiri karier panjang seorang akrobat yang selama hidupnya berkali-kali menantang batas risiko.
Tragedi ini terekam kamera stasiun televisi lokal WAPA-TV dan sempat disiarkan kepada publik. Rekaman tersebut, meski sebagian telah disunting dalam versi yang beredar kemudian, menjadi dokumentasi nyata tentang bahaya yang menyertai seni akrobat tali tinggi dan harga yang harus dibayar oleh para pelakunya.
Kematian Karl Wallenda tidak menghentikan perjalanan keluarga itu di dunia high wire. Tradisi tetap diteruskan oleh generasi berikutnya. Pada 2011, cicitnya, Nik Wallenda, kembali menapaki jalur yang sama di Puerto Rico sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan sang pendahulu. (wrd)


















