JAKARTA | Priangan.com – Proses pengantaran dan pemindahan barang di banyak lingkungan industri masih sangat bergantung pada tenaga manusia. Pekerja harus mendorong troli, memindahkan material, atau mengangkut barang dari satu titik ke titik lain di area produksi maupun pergudangan. Aktivitas ini acap dilakukan di ruang sempit, jalur yang padat, serta medan yang tidak selalu rata. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi efisiensi operasional, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan kerja, terutama ketika pekerja harus membawa beban berat atau melewati jalur yang penuh rintangan.
Dari situasi tersebut, pengembangan teknologi robotika mulai dilirik sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi sekaligus keselamatan kerja. Sejumlah sistem transportasi material berbasis robot telah digunakan di sektor industri, namun sebagian besar masih mengandalkan konsep guided vehicle, yakni robot yang bergerak mengikuti jalur tetap di lantai pabrik.
Konsep ini memang efektif dalam lingkungan yang stabil. Namun, sistem tersebut menjadi kurang fleksibel ketika tata letak ruang produksi berubah. Perubahan jalur kerja sering kali menuntut penyesuaian ulang pada jalur fisik robot yang memerlukan waktu dan biaya tambahan. Alih-alih meningkatkan efisiensi, kondisi ini justru dapat memperumit sistem operasional di dalam pabrik.
Menyikapi permasalahan tersebut sekaligus belajar dari keterbatasan teknologi sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi robot bernama CARRIE.
CARRIE merupakan akronim dari Collaborative Autonomous Robot for Rugged Industrial Environment. Robot ini dirancang sebagai sistem pengantaran barang yang mampu beroperasi secara otonom sekaligus berkolaborasi dengan manusia di lingkungan industri yang kompleks.
Berbeda dengan pendekatan teknologi sebelumnya, CARRIE tidak bergantung pada jalur fisik tertentu. Robot ini memanfaatkan teknologi pemetaan lingkungan dan sistem navigasi otonom untuk menentukan rute pergerakan secara mandiri. Dengan kemampuan tersebut, CARRIE dapat menyesuaikan jalur operasinya terhadap perubahan kondisi lapangan, seperti pergeseran tata letak mesin, munculnya rintangan baru, maupun perubahan alur kerja di area produksi dan pergudangan.
Dikutip dari laman resmi BRIN, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Mekatronika Cerdas BRIN, Roni Permana Saputra, menyampaikan bahwa CARRIE dikembangkan sebagai autonomous mobile robot dengan platform mekanik adaptif. Desain ini memungkinkan robot tetap stabil saat bergerak di berbagai jenis permukaan, termasuk jalan yang tidak rata, bidang miring, maupun area dengan perbedaan ketinggian. Walhasil, robot dapat beroperasi lebih fleksibel dibandingkan sistem pengantaran konvensional yang umumnya hanya dirancang untuk permukaan lantai datar.
Kemampuan adaptif tersebut tidak terlepas dari desain mekanik yang digunakan. CARRIE memanfaatkan mekanisme swing arm yang menggabungkan dua platform dengan free rotation joint. Sistem ini memungkinkan setiap bagian robot menyesuaikan diri dengan kontur permukaan yang dilalui. Saat robot melewati gundukan, tanjakan, atau permukaan tidak rata, kedua platform dapat bergerak secara fleksibel sehingga keseimbangan robot dan muatan yang dibawanya tetap terjaga.
Selain desain mekanik, kecerdasan sistem juga menjadi komponen penting dalam operasional CARRIE. Robot ini dilengkapi dengan sensor LiDAR yang memungkinkan pemindaian lingkungan secara real-time. Sensor tersebut membantu robot mendeteksi rintangan di sekitarnya, mengenali perubahan kondisi jalur, serta menyesuaikan pergerakan agar tetap aman. Data yang diperoleh dari sensor kemudian diproses melalui algoritma perencanaan jalur untuk menentukan rute paling efisien sekaligus meminimalkan risiko tabrakan.
Sistem navigasi dan kontrol yang terintegrasi memungkinkan CARRIE menjaga keseimbangan, mengatur kecepatan, serta merespons perubahan kondisi medan secara dinamis. Dengan cara ini, robot dapat bergerak stabil meskipun menghadapi lingkungan industri yang kompleks dan tidak sepenuhnya terstruktur.
Keunggulan lain dari CARRIE terletak pada konsep kolaborasinya. Robot ini tidak dirancang untuk menggantikan manusia sepenuhnya, melainkan menjadi asisten otonom yang dapat bekerja berdampingan dengan pekerja.
Dalam praktiknya, CARRIE dapat mengambil alih tugas-tugas pengantaran material yang bersifat repetitif atau berisiko tinggi. Dengan demikian, pekerja dapat lebih fokus pada aktivitas yang membutuhkan pengambilan keputusan serta keterampilan khusus.
Tidak hanya itu, CARRIE juga dirancang agar dapat terintegrasi dengan sistem otomasi industri lain, seperti conveyor belt maupun sistem logistik internal di pabrik. Integrasi ini membuka peluang bagi pengembangan ekosistem otomasi yang lebih efisien, di mana berbagai perangkat dapat saling terhubung untuk mempercepat alur distribusi material.
Uji coba yang dilakukan di sejumlah fasilitas BRIN menunjukkan bahwa CARRIE mampu beroperasi di medan yang cukup menantang, termasuk jalur dengan perbedaan ketinggian dan permukaan yang tidak rata. Hasil pengujian ini menjadi langkah awal untuk mempersiapkan robot tersebut menuju tahap pengembangan lebih lanjut dan potensi penerapan di sektor industri.
Ke depan, CARRIE diproyeksikan sebagai platform autonomous mobile robot yang adaptif dan kolaboratif. Pengembangan teknologi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan efisiensi operasional industri, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian teknologi robotika dan otomasi di Indonesia. (LSA)

















